Chronik Renal Failure

Kamis, 05 Mei 2011

A. Pengertian
Mansjoer (1999) berpendapat bahwa Chronik Renal Failure adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat konsisten dan ireversibel. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Sarwono (1999) mengemukakan bahwa Chronik Renal Failure adalah penurunan faal ginjal yang umumnya ireversibel dan cukup lanjut.
Pengertian yang lebih lengkap dikemukakan oleh Brunner dan Suddarth (2000) yang mengemukakan bahwa Chronik Renal Failure merupakan memperburuknya fungsi renal tidak dapat pulih dalam kemampuannya untuk mempertahankan metabolik dan gagalnya keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia dan azotemia (tersimpannya urea dan sisa nitrogen lain dalam darah).
Carpenito (2000) gagal ginjal kronik adalah kehilangan fungsi nefron progresif dan tak dapat pulih.
Sedangkan Revees, Raouk dan lockhart (2001) menyebutkan bahwa gagal ginjal kronik merupakan kerusakan pada ginjal yang terus berlangsung dan tidak dapat diperbaiki.
Dari beberapa kesimpulan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Chronik Renal Failure adalah suatu kondisi dimana ginjal tidak mampu mempertahankan lingkungan internal tubuh untuk mempertahankan metabolik dan gagalnya keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga ginjal berhenti mengeluarkan sisa metabolik dan kelebihan air dalam darah yang mengakibatkan azotemia dan uremia.



1. Fisiologi

Ginjal merupakan organ berbentuk seperti dua kacang yang terletak di belakang peritonium pariental daoat sudut konstovertebal. Nefron merupakan unit fungsional dari ginjal dan tiap ginjal terdiri dari kira-kira satu juta unit nefron. Struktur nefron berperan dalam proses pembentukan urin.
Fungsi utama dari kedua ginjal adalah Ultrafiltrasi yaitu membuang volume cairan dari darah sirkulasi bahan-bahan yang terlarut dalam cairan juga ikut terbuang; Pengendalian Cairan yaitu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit yang tepat dalam batas ekskresi yang normal dalam sekresi dan reabsorsi; Keseimbangan Asam yaitu mempertahankan pH pada derajad dan basa normal dan ekskresi ion H dan pembentukan bikarbonas untuk bufer / penyangga; Ekskresi produk sisa yaitu pembuangan langsung produk metabolisme yang terdapat pada filtrat flomerulus; Mengatur tekanan yaitu mengatur tekanan darah dengan mengendalikan volume sirkulasi dan sekresi renin; Memproduksi eritrosit yaitu eritropoitein yang disekresi oleh ginjal merangsang sumsum tulang agar membuat sel-sel eritrosit; Mengatur metabolisme yaitu mengaktifkan vitamin D yang diatur oleh kalsium fosfat ginjal (Long, 1996)


C. Etiologi
a. Kondisi prerenal (hipoperfungsi ginjal)
Kondisi prerenal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfungsi ginjal dan turunya laju filtrasi glomerulus. Kondisi klinis umum adalah status penipisan volume (nemoragi atau kehilangan cairan melalui saluran gastrointestinal) vasodilatasi ( sepsi natau anaviksasi) dan gangguan fungsi jantung ( infark miokardium, gagal jantung kongestif)
b. Penyebab intrarenal (kerusakan aktual jaringan ginjal)
penyebab intarenal adalah kerusakan struktur glomerulus atau tubulus ginjal. Kondisi seperti terbakar , cedera akibat benturan, dan infeksi serta agen nefropksin dapat menyebakan nekrosis tubulus akut (ANT) dan berhentinya fungsi renal.
c. pasca renal
Pasca renal menyebabkabn gagal ginjal akut biasanya akibat dari obtruksi di bagian distal ginjal. Tekanan di tubulus ginjal akan meningkat, akhirnya lajun filtrasi glomerulus meningkat.
Etiologi Chronik Renal Failure sangat komplek dan bervariasi, kerusakan pada penyakit ginjal penyebabnya didasarkan atas dua kategori yaitu penyakit morfologi sistem ginjal itu sendiri dan penyebab penyakit (Carpenito, 1999)
c. Morfologi
1. Penyakit Glomerulus
- Glomerulonefritis
- Penyakit membran (Basemen Membran Disease)
- Glumerulosklerosis inter kapiler
2. Penyakit Tubuler
- Hiperkalsemia kronik
- Penekanan pottasium kronik (pemakaian analgesik yang berlebihan)
3. Penyakit Vaskuler Ginjal
- Penyakit Iskemi Ginjal
- Nefrolitiasis (pemakaian analgesik yang berlebihan)
- Hiperparatiroidisme
4. Penyakit Traktus Urinarius
Obstruksi nefrotik (disebabkan oleh kalkuli / batu neoplasma, abnormalitas leher kandung kemih uretra)
5. Kelainan Kongenital
- Penyakit Kiste Medular
d.Penyebab Penyakit
1. Infeksi
- Pylonefritis
- Tuberkulosis
2. Penyakit Vaskuler Sistematik
- Hipertensi renovaskuler interrenal
- Hipertensi renovaskuler external
3. Penyakit ginjal metabolik
- Amylidosis
- Gout (hiperuricemic nefropati)
- Labetik nefropati
- Sarcoidosis
4. Penyakit Ginjal Kongenital
- Sklerosis Sistematik Progresif
- Poliarteritis
D. Patofisiologi
Menurut Price dan Willson (1995), perkembangan penyakit ginjal pada pasien hingga tahap lanjut dinilai dari tingkat penurunan fungsi ginjal. Tahap gangguan ginjal antara lain:
1. Tahap 1 : Diminishid Renal Reserve
Tahap ini penurunan fungsi ginjal, tetapi tidak terjadi penumpukan sisa-sisa metabolik dan ginjal yang sehat akan melakukan kompensasi terhadap gangguan yang sakit tersebut.
2. Tahap II : Renal Insufficiency (insufisiensi ginjal)
Pada tahap ini dikategorikan ringan apabila 40-80% fungsi normal, sedang apabila 15-140% fungsi normal dan berat bila fungsi ginjal normal hanya 2-20%. Pada Insufisiensi ginjal sisa-sisa metabolik mulai berakumulasi dalam darah karena jaringan ginjal yang lebih sehat tidak dapat berkompensasi secara terus menerus terhadap kehilangan fungsi ginjal karena adanya penyakit tersebut. Tingkat serum BUN, Kreatinin, asam urat dan fosfor mengalami peningkatan tergantung pada tingkat penurunan fungsi ginjal.
3. Tahap III : End Stage Renal Desease (penyakit ginjal tahap lanjut)
Sejumlah besar sisa nitrogen (BUN, Kreatinin) berakumulasi dalam darah dan ginjal tidak mampu mempertahankan homeostatis. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit terjadi bila segera dianalisa akan menjadi fatal / kematian.

E. Manifestasi Klinis
Menurut Sarwono, dkk (1999) antara lain: mual, muntah, anoreksia, lemah, sesak nafas, pucat, anemia, oedema, asisdosis metabolik akibat asam organik sebagai hasil metabolisme.
Sedangkan manifestasi klinis menurut Long, (1996) antara lain:
a. Sistem Integumentasi
- Kulit : Pucat, keabu-abuan / pigmentasi seperti perunggu, kering, bersisik, pruritis
- Kuku : Tipis, mudah pecah
- Rambut : Kering, mudah putus
b. Sistem Gastrointestinal
- Rongga mulut : Halitosis (fector uremicus), perdarahan gusi
- Lambung : Mual, muntah, anoreksi, gastritis, tungkak
- Usus bawah : Konstipasi
c.Sistem Kardiovaskuler
- Hipertensi, kegagalan jantung kongestif, penyakit jantung arteriosklerotik, pericarditis.
d. Sistem Pulmonari
- Uremi paru-paru atau pneumonitis
e. Sistem neurologik
- Kecapaian, sakit kepala, gangguan tidur, iritabilitas otot, seizures/kejang-kejang.
f. Sistem Hematologi
- Anemi, perdarahan
g. Sistem Metabolik
- Tidak toleran terhadap hidrat arang, hiperlipidemia.
h. Sistem Endokrin
- Hiperparatiroidisme, infertilitas, disfungsi seksual
F. Pemeriksaan Diagnostik
Doengoes (2000) menyatakan bahwa pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien Chronik Renal Failure meliputi:
1. Urine
Volume : kurang dari 400 ml/jam, oliguri, anuria.
Warna : secara abnormal urine keruh, disebabkan bakteri, partikel, koloid dan fosfat.
Sedimen : kotor, kecoklatan menunjukan adanya darah, Hb, mioglobin, porfirin.
Berat jenis : kurang dari 1.015 (menetap pada 1,015) menunjukan kerusakan ginjal berat.
2. Darah
BUN/Kreatinin : meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi kadar kreatin 10 mg/dl diduga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
Hitung darah lengkap : Hematokrit menurun, HB kurang dari 7-8 g/dl.
SDM : waktu hidup menurun pada defisiensi erritripoetin seperti azotemia.
AGD : penurunan asidosis metabolik (< 7:2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresi hidrogen dan amonia atau hasil ahir katabolisme protein bikarbonat menurun PCO2 menurun. Natrium Serum : mungkin rendah (bila ginjal kehabisan natrium/normal menunjukan status delusi hipernatremia) Kalium : peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan hemolisis SDM pada tahap akhir perubahan EKG mungkin tidak terjadi kalium 6,5 atau lebih besar. Magnesium/fosfat meningkat Kalsium menurun Protein (khususnya albumin) kadar srum menurun dapat menunjukan kehilangan protein melalui urin, perpindahan cairan, panurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena kurang asaminoesensial. Osmolalitas Serum : lebih besar dari 285 m Osm/kg sering sama dengan urin. 3. KUB foto : menunjukan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter. 4. Pielogram retrograd : menunjukan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter. 5. Arteriogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal danunjukan abnormalitas sirkulasi ginjal dan mengidentivikasi ekstravaskuler massa. 6. Sistrouretrogam : menunjukan ukuran kandung kemih, refluk ke dalam ureter retensi. 7. Ultrasonoginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya massa, kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas. 8. Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopi untuk menentukan sel jaringan untuk didiagmose sistologi. 9. Endoskopi ginjal : dilakukan secara endoskopik untuk menentukan pelvis ginjal, pengangkatan tumor selektif. 10. EKG : mungkin abnormal untuk menunjukan keseimbangan elektrolit dan asam basa. G. Penatalaksanaan 1. Tentukan dan tata laksana penyebabnya 2. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam Biasanya diusahakan sehingga tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. Pada beberapa pasien, furosemid dosis besar (250-1.000 mg/hr) atau diuretic loop (bumetanid, asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan cairan, sementara pasien lain mungkin memerlukan seuplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat oral. Pegawasan dilakukan melalui berat badan, urin dan pencatatan keseimbangan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500 ml). 3. Diet tinggi kalori dan rendah protein Diet rendah protein (20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari uremia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan berlebihan dari kalium dan garam. 4. Kontrol hipertensi Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dengan hasil akhir gagal jantung kiri. Pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal, keseimbangan garam dan cairan diatur tersendiri tanpa tergantung tekanan darah. Sering diperlukan diuretic loop selain obat anti hipertensi. 5. Kontrol ketidakseimbangan elektrolit Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk mencegah hiperkalemia, dihindari masukan kalium yang besar (batasi hingga 60 mmol/hari) diuretic hemat kalium, obat-obatan yang berhubungan dengan ekskresi kalium (misalnya, penghambat ACE dan obat anti inflamasi non steroid), asidosis berat atau kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Deteksi melalui kadar kalium plasma dan EKG. Gejala-gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15 mmol/liter. Biasanya terjadi pada pasien yang sangat kekurangan garam dan dapat diperbaiki secara spontan dengan dehidrasi. Namun perbaikan yang cepat dapat berbahaya. 6. Mencegah dan tata laksana tulang ginjal Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfot seperti aluminum hidroksida (300-180) atau kalsium karbonat (500-3.000) pada setiap makan. Namun hati-hati dengan toksisitas obat tersebut. Diberikan suplemen vitamin D dan dilakukan paratiroidektomi atas indikasi. 7. Deteksi dini dan terapi infeksi Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imunosupreif dan diterapi lebih ketat. 8. Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal Banyak obat-obatan yang harus diturunkan dosisnya karena metaboliknya toksik dan dikeluarkan oleh ginjal. Misalnya digoksin, aminglikosid, analgesik opiat, amfoterisin, dan alopuinol. Juga obat-obatan yang meningkatkan katabolisme dan uerum darah, misalnya tetraklin, koortkosteroid, dan sitostatik. 9. Deteksi dan terapi komplikasi Awasi dengan ketat kemungkinan ensefalopati uremia, perikarditis, neuropati perifer, hiperkalemia yang meningkat, kelebihan cairan yang meningkat, infeksi yang mengancam jiwa, kegagalan untuk bertahan, sehingga diperlukan dialisis dan program transplantasi. 10. Persiapkan dialysis dan program transplantasi Segera dipersiapkan setelah Chronik Renal Failure dideteksi. Indikasi dilakukan dialisis biasanya adalah gagal ginjal dengan gejala klinis yang jelas meski telah dilakukan terapi konsevatif, atau terjadi komplikasi. h. Fokus Intervensi 1. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak- seimbangan cairan dan elektrolit (Doengoes, 1998) Kriteria hasil : Mempertahankan curah jantung ditandai dengan tekanan darah yang normal dan frekuensi jantung dalam batas normal. Intervensi : Mandiri - Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema periver/kongesti vaskuler dan keluhan dispnea - Kaji adanya hipertensi - Selidiki keluhan nyeri dada perhatikan lokasi radiasi beratnya (skala 0-10) - Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktvitas Kolaborasi - Obat anti hipertensi 2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme regulator dengan retensi air (Tucker, dkk, 1998) Kriteria hasil : Haluaran urin tepat dengan berat jenis, berat badan stabil, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada edema. Intervensi : Mandiri - Awasi denyut jantung , tekanan darah dan CVP - Catat pemasukan dan pengeluaran cairan secara adekuat - Kaji kulit, wajah, are tergantung edema - Evaluasi derajat edema (skala + 1 samapai +4) Kolaborasi - Awasi pemeriksaan laboratorium : BUN, kreatinin, Na dan kreatinin urin, Na serum, kasium serum, Hb, Ht, foto dada - Berikan/batasi cairan sesuai indikasi - Berikan obat sesuai indikasi : diuretik, anti hipertensi 3. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan disfungsi ginjal (Doengoes, 1999) Kriteria hasil : Menunjukan pemasukan dan pengeluaran mendekati seimbangan, turgor baik, membran mukosa lembab, nadi perifer teraba, berat badan dan tanda-tanda vital stabil, elektrolit dalam batas normal. Intervensi : Mandiri - Ukur pemasukan dan pengeluaran dengan akurat. Hitung kehilangan tak kasat mata - Berikan cairan yang diijinkan selama periode 24 jam - Awasi tekanan frekuensi darah dan tekanan jantung. Perhatikan adanya tanda dehidrasi, contoh membran mukosa kering, haus, sensori dangkl, vasokontriksi perifer. - Kontrol suhu lingkungan, batasi linen tempat tidur Kolaborasi - Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh natrium 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah (Carpenito, 1999) Kriteria hasil : Berat badan meningkat, nafsu makan meningkat, mual muntah hilang, benas edema. Intervensi : - Kaji/catat pemasukan diit - Berikan makan sedikit dan sering - Berikan pasien daftar makanan/cairan dan dorong terlibat dalam pemilihan menu - Anjurkan untuk perawatan mulut - Timbang berat badan tiap hari Kolaborasi - Awasi pemeriksaan laboratorium contoh BUN, albumin serum, tranferin, natrium dan kalium - Konsul dengan ahli gizi - Berikan kalori tinggi, diit rendang/sedang protein - Berikan obat sesuai dengan indikasi 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan depresi pertahanan imunologi (Tucker, dkk, 1998) Kriteria hasil : Tidak ada tanda dan gejala infeksi Intervensi : - Kaji tanda-tanda vital - Kaji tanda-tanda infeksi, suhu meningkat, adanya pembengkakan, kemerahan. - Anjurkan cuci tangan yang baik pada pasien dan tingkatkan pada staf - Hindari prosedur infasif dan manipulasi kateter tak menetap kapanpun. Gunakan teknik aseptik bila merawat/manipulasi IV/area invasif. Perhatikan edema asptik dan drenase purulen - Dorong nafas dalam, batuk dan perubahan posisi Kolaborasi - Awasi pemeriksaan laboratorium - Berikan antibiotik tepat sesuai indikasi 6. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan turgor kulit (edema/dehidrasi), ganggun status metabolik/sirkulasi dan sensasi (Doengoes, 1999) Kriteria hasil : Mempertahankan agar kulit utuh, menunjukan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera. Intervensi : Mandiri - Kaji/inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler. Perhatika adanya kemerahan, ekskonasi. Obsevasi terhadap ekimosis - Pantau masukan cairan dan hidarasi kulit - Ubah posisi dengan sering - Berikan perawatan kulit batasi penggunaan sabun - Pertahankan linen kering bebas keriput - Berikan nafas buatan/filtrasi 7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum (Tucker, dkk, 1998) Kriteria hasil : Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur dan dibuktikan dengan kelemahan berkurang, tanda-tanda vital normal Interval : - Kaji tanda-tanda vital sesudah dan sebelum aktivitas khususnya setelah pasien menggunakan vasodilator, diuretik - Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas - Catat takikardi, distrimia, dispnea, berkeringat, pucat - Kaji penyebab kelemahan - Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas - Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sesuai indikasi. Selingi periode aktivitas dengan periode istirahat. 8. Gangguan perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologi, akumulasi toksin asidosis metabolik (Doengoes, 1999) Kriteia hasil : Meningkatkan tingkat metal, biasanya mengidentifikasi cara untuk mengkompensasi devisit memori Intervensi : Mandiri - Kaji luasnya gangguan kemampuan berpikir - Pastikan dari orang dekat, tingkatkan mental pasien biasanya - Berikan lingkungan tenang - Komunikasi informasi, instruksi dalam kalimat pendek dan sederhana Kolaborasi - Awasi pemeriksaan laboratorium contoh : BUN/kretinin, elektrolit serum, kadar glukosa dan GDA (P02, pH) - Berikan tambahan O2 sesuai indikasi - Hindari penggunaan barbiturat opium 9. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan (Doenges, 1999) Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit, prognosis dan pengobatan. Intervensi Mandiri - Kaji ulang proses penyakit, prognosis dan faktor pencetus bila diketahui - Kaji ulang rencana diit/pembatasan - Dorong pasien mengobservasi karakteristik urin dan jumlah/ frekuensi pengeluaran Identifikasi perjalanan penyakit -progresifitas penurunan fungsi ginjal ureum kreatinin, klearens kreatinin test CCT = (140 – umur ) X BB (kg) 72 X kreatinin serum wanita = 0,85 pria = 0,85 X CCT -hemopoesis : Hb, trobosit, fibrinogen, factor pembekuan -elektrolit -endokrin : PTH dan T3,T4 -pemeriksaan lain: infark miokard Toksik Uremik Gagal ginjal tahap akhir ↓ ↓GFR Kreatinin ↑ Prod. Met. Prot. Tertimbun ↑ phosphate serum Dalam darah ↓ kalsium serum Sekresi parathormon Tubuh tdk berespon dgn N Kalsium di tulang ↓ Met.aktif vit D↓ Perub.pa tulang/osteodistrofi ginjal

Read More..

TEKNIK MENGATASI NYERI RELAKSASI PROGRESIF, PANAS DAN DINGIN

Sabtu, 26 Februari 2011

TEHNIK MENGATASI NYERI
”RELAKSASI PROGESIF”
PENGERTIAN
Tehnik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sugesti (Martha Davis).

PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Bina Hubungan saling percaya
2. Jelaskan Prosedur:
• Tujuan
• Posisi berbaring atau duduk dikursi dengan kepala ditopang.
• Waktu 2 x 15 menit per jam
• Empat kelompok utama yang digunakan dalam tehnik relaksasi, antara lain :
a. tangan, lengan bawah, dan otot bisep
b. Kepala, muka, tenggorokan, dan bahu termasuk pemusatan perhatian pada pipi, hidung, mata, rahang, bibir, lidah dan leher. Sedapat mungkin perhatian diarahkan



pada kepala karena secara emosional, otot yang paling penting dalam tubuh ada disekitar area ini;
c. Dada, lambung, dan punggung bagian bawah
d. Paha, pantat, betis dan kaki.
3. Anjurkan klien untuk mencari posisi yang nyaman dan ciptakan lingkungan yang nyaman.
4. Bimbingan klien untuk melakukan tehnik relaksasi (prosedur diulang paling tidak satu kali). Jika area tetap tegang dapat diulang lima kali dengan melihat respon klien :
 Kepalkan kedua telapak tangan, lalu kencangkan bisep dan lengan bawah selama 5 – 7 detik. Bimbingan klien kearah otot yang tegang, anjurkan klien untuk merasakannya, dan tegangkan otot sepenuhnya kemudian relaks selama 12 – 30 detik.
 Kerutkan dahi atas pada saat yang sama, tekan kepala sejauh mungkin kebelakang, putar searah jarum jam dan kebalikannya, kemudian anjurkan klien untuk mengerutkan otot muka, sep kenari : cemberut, mata dikedip-kedipkan, bibir dimonyongkan kedepan , lidah ditekan kelangit-langit, dan bahu dibungkukkan selama 5 – 7 detik. Bimbingan klien kearah otot yang tegang, anjurkan klien untuk memikirkan rasanya, dan tegangkan otot sepenuhnya kemudian relaks selama 12-30 detik.
 Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas dalam, tekan keluar lambung, tahan, lalu relaks. Tarik nafas dalam, tekan keluar perut, tahan, relaks.
5. Selama melakukan tehnik relaksasi, catat respon non verbal klien. Klien menjadi agitasi atau tidak nyaman, hentikan latihan dan jika klien terlihat kesulitan, relaksasi hanya pada sebagian tubuh. Lambatkan kecepatan latihan dan berkosentrasi pada bagian tubuh yang tegang
6. Dokumentasikan : respon klien terhadap tehnik relaksasi dan perubahan tingkat kenyamanan.


TEHNIK MENGATASI NYERI
”PEMIJATAN (MASASE)”
PENGERTIAN
Pengurutan dan pemijatan yang menstimulasi sirkulasi darah serta metabolisme dalam jaringan.

TUJUAN
1. Mengurangi ketegangan otot
2. Meningkatkan relaksasi fisik dan psikologis
3. Mengkaji kondisi kulit
4. Meningkatkan sirkulasi/peredaran darah pada area yang dimasase.

PERSIAPAN ALAT
• Pelumas (minyak hangat/losion)
• Handuk

PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan
2. Identifikasi klien
3. Beritahu klien tindakan yang akan dilakukan
4. Cuci tangan
5. Atur klien dalam posisi telungkup. Jika tidak biasa, dapat diatur dengan posisi miring.
6. Letakkan sebuah bantal kecil dibawah perut klien untuk menjaga posisi yang tepat.
7. Tuangkan sedikit lotion ketangan (tangan perawat). Usapkan kedua tangan sehingga losion akan rta pada permukaan tangan.
8. Lakukan masase pada punggung. Masase dilakukan dengan menggunakan jari-jari dan telapak tangan, dan tekanan yang halus. Gunakan losion sesuai kebutuhan.
9. Metode masase :
a. Selang seling tangan :
Masase punggung dengan tekanan pendek, cepat, bergantian tangan.
b. Remasan
Usap otot bahu dengan setiap tangan anda yang dikerkan secara bersama.
c. Gesekan
Masase punggung dengan ibu jari, dengan gerakan memutar sepanjang tulang punggung dari sakrum kebahu.
d. Eflurasi
Masae punggung dengan kedua tangan, menggunakan tekanan lebih halus dengan gerakan keatas untuk membantu aliran balik vena.
e. Petriasi
Tekan punggung secara horizontal. Pindah tangan anda dengan arah yang berlawanan dengan menggunakan gerakan meremas.
f. Tekanan Menyikat
Secara halus teka punggung denagn ujung-ujung jari. Untuk mengakhiri masase.

TEHNIK MENGATASI NYERI
KOMPRES
KOMPRES PANAS KERING

PENGERTIAN
Memberikan rasa hangat pada klien dengan mengunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukannya.

TUJUAN
1. Memperlancar sirkulasi darah
2. Mengurangi rasa sakit
3. Merangsang peristaltik usus
4. Memperlancar pengeluaran getah radang (eksudat)
5. Memberi rasa nyaman/hangat dan tenang

DILAKUKAN PADA :
1. Klien dengan perut kembung
2. Klien yang kedinginan, Mis : akibat narkose, iklim,dll.
3. Klien yang mengalami radang, mis : radang persendian
4. Kekejangan otot (spasmus)
5. Adanya abses (bengkak), hematom.

METODE KOMPRES PANAS :
1. Kompres panas basah
2. Kompres panas kering:
a. Buli-buli panas (WWZ)
b. Bantal Listrik
c. Busur lampu/cahaya.

A. KOMPRES PANAS BASAH
Persiapan Alat :
1. Baki / nampan
2. Kom bertutup steril berisi cairan hangat sesuai kebutuhan (40˚- 46 ˚ C).
3. Bak steril berisi pinset 2 buah, kasa beberapa potong dengan ukuran yang sesuai.
4. Perban kasa atau kain segitiga.
5. Plester dan gunting plester
6. Pengalas
7. Sarung tangan bersih ditempatnya
8. Kapas dan wash bensin dalam botol kecil
9. Bengkok 2 (satu kosong, satu berisi lisol)

Prosedur Tindakan :
1. Berikan penjelasan kepada klien tentang perasat yang akan dilakukan.
2. Bawa alat kedekat klien
3. Pasang sampiran, jika perlu
4. Bantu klien pada posisi yang nyaman dan tepat
5. Cuci tangan
6. Pasang pengalas dibawah area yang akan diberi kompres
7. Pakai sarung tangan
8. Buka balutan perban (jika diperban) dan buang bekas balutan kedalam bengkok kosong.
9. Ambil beberapa potong kaka dengan pinset dari bak steril dan masukkan kedalam kom berisi cairan hangat untuk mengompres.
10. Ambil pinset satu lagi untuk memegang dan memeras kasa kompres hangat dan kom kompresan hangat agar kasa tidak terlalu basah.
11. Selanjutnya ambil kasa dengan cara direnggangkan/dibentangkan dan letakkan diatas area yang membutuhkan kompres hangat.
12. Perhatikan respon klien, adakah rasa tidak nyaman dan dalam beberapa detik setelah kasa hangat menempel dikulit, angkat tepi kasa untuk mengkaji apakah terdapat kemerahan pada kulit yang dikpmpres.
13. Jika klien menoleransi kompres hangt tersebut, tutup kasa kompres hangat basah pada area yang memerlukan kompres, lalu lapisi dengan kasa kering dan selanjutnya balut dengan perban ksa atau kain segitiga serta fiksasi dengan plester atau ikat.
14. Lakukan prasat ini selama 15-30 menit atau sesuai program terapi dan ganti balutan kompres hangat setiap 5 menit sekali.
15. Lepaskan sarung tangan dan masukkan kedalam tempatnya.
16. Atur posisi klien kembali nyaman.
17. Bereskan dan bersihkan alat-alat untuk disimpan kembali
18. Cuci Tangan
19. Dokumentasikan

B. KOMPRES PANAS KERING
Kompres Panas dengan Buli-buli Panas (WWZ)
Tujuan :
1. Mengurangi/membebaskan rasa nyeri, spasmus otot, peradangan atau kongesti.
2. Memberikan rasa hangat.

Dilakukan pada :
1. KLien yang kedinginan
2. Atas saran dokter
3. Persiapan aether bed

Persiapan Alat :
1. Baki/zampan
2. Buli-buli panas dan sarungnya
3. Termos berisi air panas
4. Termometer air panas bila perlu
5. Lap verja

Prosedur Tindakan :
1. Berikan penjelasan lepada klien tentang perasat yang akan diberikan.
2. Siapkan peralatan
3. Cuci tangan.
4. Lakukan pemanasan pendahuluan pada buli-buli panas denagn cara mengisi buli-buli dengan air panas, mengencangkan penutupnya, kemuadian membalik posisi buli-buli berulang-ulang lalu kosongkan isinya.
5. Siapkan dan ukur suhu air yang diinginkan (50º – 60º C)
6. Buli-buli dengan air panas sebanyak ½ bagian, lalu keluarkan udaranya dengan cara :
7. Periksa buli-buli apakah bocor/tidak, lalu keringkan dengan lap kerja dan masukkan dalam sarungnya.
8. Bawa buli-buli kedekat klien
9. Beritahu klien.
10. Siapkan/atur posisi klien
11. Letakkan/pasang buli-buli pada bagian/area yang memerlukannya.
12. Kaji secara teratur kondisi klien untuk mengetahui kelainan yang timbul akibat pemberian kompres dengan buli-buli panas, misalnya kemerahan, ketidaknyamanan/kebocoran.
13. Ganti buli-buli panas setelah 20 menit dipasang dengan air panas.
14. Bereskan dan kembalikan peralatan bila prasat sudah selesai
15. Cuci tangan
16. Dokumentasikan.

Kompres Panas dengan Bantal Listrik
Dilakukan Pada :
1. Klien dengan sakit perut pada keadaan tertentu
2. Klien yang kedinginan

Persiapan Alat :
1. Bantal listrik dengan sarungnya.
2. Handuk

Prosedur Tindakan :
1. Berikan penjelasan lepada klien tentang prasat yang akan dilakukan.
2. Bawa alat-alat kedekat klien
3. Periksa tegangan listrik, sesuai voltase bantal listrik dengan stopkontak, setelah itu masukkan bantal kedalam sarungnya.
4. Cuci tangan dan keringkan tangan.
5. Atur posisi klien
6. Letakkan handuk diatas bagian yang akan dipasang bantal listrik
7. Letakkan bantal listrik yang telah diberi sarung diatas handuk, lalu nyalakan. Atur suhu jangan terlalu panas.
8. Awasi/tunggui klien selama pemakaian bantal listrik.
9. Angkat bantal listrik jika sudah selesai menggunakan.
10. Rapikan kembali klien.
11. Bereskan dan simpan kembali alat yang dipakai
12. Cuci tangan.
13. Dokumentasikan.

KOMPRES DINGIN

Terdiri Atas :
1. Kompres dingin basah
2. Kompres dingin kering

Pengertian
Memasang suatu zat dengan suhu rendah pada tubuh untuk tujuan terapetik.

Tujuan
1. Menurunkan suhu tubuh
2. Mencegah peradangan meluas
3. Mengurangi kongesti
4. Mengurangi perdarahan lokal
5. Mengurangi rasa sakit lokal
6. Agar luka menjadi bersih.

Dilakukan pada :
1. Suhu tinggi
2. Radang.
3. Memar
4. Batuk/muntah darah
5. Pascatonsilektomi
6. Luka Tertutup/terbuka

A. Kompres Dingin Basah
Pengertian :
Pemberian kompres dingin basah steril dengan menggunakan larutan obat antiseptik.

Persiapan Alat :
1. Baki berisi :
a. Mangkok bertutup steril
b. Cairan yang diperlukan (PK 1 : 4000/Rivanol 1 :1000 – 1: 3000/Betadin.
2. Bak steril berisi :
a. Pinset anatomis 2 buah
b. Beberapa potong kain kasa sesuai kebutuhan
c. Pembalut (jika perlu)
d. Perlak kecil dan alas
e. Sampiran (jika perlu)

Prosedur Tindakan :
1. Berikan penjelasan kepada klien mengenai tindakan yang akan dilakukan
2. Bawa alat-alat kedekat klien
3. Pasang sampiran
4. Cuci tangan
5. Pasang alas dibawah bagian yang akan di kompres
6. Kocok obat/cairan kompres jika terdapat endepan.
7. Tuangkan cairan kedalam mangkok steril
8. Masukkan kasa kedalam cairan kompres
9. Peras kain kasa menggunakan 2 pinset
10. Bentangkan dan letakkan kasa diatas bagian yang akan dikompres, lalu balut.
11. Tutup/pasang selimut jika perlu
12. Rapikan klien jika perasat sudah selesai.
13. Bereskan alat-alat dan simpan ketempat semula
14. Cuci tangan
15. Dokumentasikan.

Kompres Dingin Basah dengan menggunakan air biasa/air es
Pengertian :
Memberikan dingin setempat dengan menggunakan lap/kain kasa yang dicelupkan dalam air biasa /air es.

Tujuan :
1. Mengurangi rasa sakit setempat
2. Menurunkan suhu tubuh
3. Mengurangi perdarahan setempat

Tempat pengompresan :
1. Untuk menurunkan suhu tubuh : ketiak dan lipatan paha.
2. Untuk mengurangi perdarahan/rasa sakit : bergantung pada tempatnya.

Persiapan Alat :
1. Baki
2. Baskom kecil berisi air es/air biasa
3. Pengalas (perlak kecil dan alas)
4. Beberapa buah waslap/kain kasa dengan usuran tertentu.
5. Selimut (jira perlu)
6. Sampiran

Prosedur tindakan :
1. Berikan penjelasan lepada klien mengenai tindakan yang akan dilakukan.
2. Bawa alat-alat kedekat klien.
3. Pasang sampiran, jika perlu
4. Cuci tangan
5. Rentangkan pengalas dibawah bagian yang akan dikompres.
6. Basahi waslap dengan airbiasa/es dan peras sampai lembab.
7. Letakkan waslap tersebut pada bagian tubuh yang akan dikompres.
8. Ganti waslap setiap kali waslap yang sudah terendam, ulangi terus sampai suhu badan Turín
9. Rapiñan klien jira sudah selesai.
10. Bereskan alat-alat dan simpan kembali
11. Cuci tangan
12. Dokumentasikan.
B. Kompres Dingin Kering
Pengertian :
Memasang eskap/eskrag pada tubuh untuk tujuan terapeutik dengan menggunakan :
1. Kirbat es (eskap) : bentuk bundar/lonjong digunakan untuk bagian kepala, dada, perut.
2. Eskrag : bentuk memanjang digunakan untuk bagian leher.

Tujuan :
1. Menurunkan suhu tubuh
2. Mengurangi nyeri/sakit setempat, Mis : radang usus buntu
3. Mengurangi perdarahan, misal : pascatonsilektomi, muntah/batuk darah, perdarahan usus, perdarahan lambung, dan pascapartum.

Dilakukan pada :
1. Klien yang suhu tubuhnya tinggi
2. Klien dengan perdarahan Herat, misalnya epistaksis.
3. KLien yang kesakitan, misal : infiltrat apendikuler, sakit kepala Herat, dll.
4. Klien pascabedah tonsil (tonsilektomi), dll.

Mengisi dan memberikan kirbat es/eskrag
Persiapan alat :
1. Baki
2. Eskrag berisi potongan-potongan kecil es dan satu sendok teh garam (agar es tidak cepat mencair)
3. Air dalam baskom
4. Lap kerja
5. Perlak kecil dan alasnya.

Prosedur Pelaksanaan:
1. Berikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Bawa alat-alat kedekat klien
3. Cuci tangan.
4. Masukkan potongan es dalam baskom air agar pinggir es tidak tajam.
5. Isi kirbat es/eskrag dengan potongan es sebanyak ½ bagian.
6. Keluarkan udara dari eskrap/eskrag dengan melipatkan bagia yang kosong, lalu tutup rapat.
7. Periksa eskrap/eskarg apakah bocor atau tidak
8. Keringkan eskap/eskarg dengan lap dan masukkan kedalam sarung eskrap/eskrag.
9. Buka area yang akan diberi kompres dan atur posisi klien sesuai kebutuhan.
10. Pasang pengalas pada bagian tubuh yang akan diberi kompres.
11. Letakkan eskrap pada bagian yang memerlukan kompres. Untuk leher: letakkan eskrag diatas leher dan ikatkan dibelakang leher.
12. Kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh (jika perlu).
13. Angkat eskrap/eskarg jika sudah cukup/selesai.
14. Atur posisi klien kembalipada posisi yang nyaman.
15. Bereskan alat-alat dan simpan ketempat semula.
16. Cuci tangan.
17. Catat kegiatan yang telah dikerjakan perawat, antara lain:
• Waktu dan jenis kompres
• Tindakan yang diberikan dan hasilnya.
• Waktu pengambilan kompres
• Pendidikan kesehatan yang diberikan.

Informasi untuk klien/keluarga :
1. Jelaskan tindakkan dan tujuannya pada klien.
2. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat jika merasa nyeri atau mati rasa.
3. Beritahukan klien bahwa pemasangan kompres hanya dilakukan oleh perawat.

Pemberian Kirbat Es Gantung (Eskap Melayang)
Pengertian :
Memasang kirbat es secara tidak langsung pada tubuh klien yang memerlukan.

Tujuan :
Mengurangi perdarahan, nyeri, dan pergerakan

Dilakukan Pada :
Klien dengan perdarahan usus (dalam rongga perut), sakit kepala hebat.

Persiapan alat :
1. Baki
2. Kirbat es yang sudah diisi es dalam sarungnya.
3. Duk/kain atau handuk
4. Keranda/busur Selimut atau bisa diganti dengan tali

Prosedur Pelaksanaan :
1. Berikan penjelasan kepada klien tentang tindakan yang akan dilakukan.
2. Bawa alat-alatkedekat klien
3. Cuci tangan
4. Pasang keranda selimutdiatas bagian tubuh yang akan diberi kirbat es.
5. Pasang kain/duk/handuk pada keranda/busur selimut agak kendor sehingga bagian tengah melengkung kedalamdan hampir menyentuh perut atau kepala klien (bagian yang memerlukan kompres), selanjutnya pasang peniti pada ujung-ujung kain/duk/handuk.
6. Letakkan kirbat es diatas es diatas duk/kain/handuk tepat diatas bagian tubuh yang memerlukan kompres.
7. Tutupi klien dengan selimut.
8. Kembalikan alat-alat yang sudah tidak diperlukan.
9. Cuci tangan
10. Dokumentasikan.

TEHNIK MENGATASI NYERI
”RENDAM”
PENGERTIAN
Tindakan keperawatan denagn cara merendam dengan menggunakan cairan hangat yang dapat dilakukan pada daerah tangan, kaki, glutea,seluruh bagian tubuh yang mengalami gangguan integritas, gangguan sirkulasi, ketegangan otot atau terdapat luka kotor.

TUJUAN
1. Mengendorkan otot,tendon dan ligamen
2. Menghilangkan nyeri dan peradangan
3. Mempercepat penyembuhan jaringan
4. Memperbaiki sirkulasi
5. Membersihkan luka kotor.

PERSIAPAN ALAT:
1. Alat/tempat perendam
2. Larutan PK untuk rendam duduk/mandi rendam
3. Handuk
4. Pinset dan gunting steril
5. Kain kasa steril
6. Kapas sublimat

PROSEDUR PELAKSANAAN
A. Rendam Tangan dan Kaki
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakuakn
2. Cuci tangan
3. Mesukkan larutan hangat (40,5º C – 43˚ C) ke dalam alat/tempat perendam
4. Tuangkan obat yang diperlukan pada air rendaman.
5. Letakkan pengalas dibawah tempat rendaman.
6. Masukkan bagian yang akan direndam (tangan/kaki).
7. Tutup bagian atas rendaman dengan handuk supaya tidak cepat menguap panasnya.
8. Lakukan perendaman selama 5 – 10 menit.
9. Setelah selesai, bersihkan daerah yang rendam. Bila ada jaringan yang kotor,lakukan pembersihan dengan kapas sublimat dengan menggunakan sublimat atau dengan menggunakan jaringan yang mati.
10. Cuci tangan setelah melakukan prosedur
11. Catat perubahan yang terjadi ( hasil rendaman, kondisi pasien, reaksi kulit, dan cairan yang digunakan/obat).

B. Rendam Glutea (Rendam Duduk)
Dikukan pada :
1. Daerah luka sekitar anus dan genetalia
2. Jahitan epistomi pasca persalinan yang meradang
3. Pasien pasca operai hemoroidektomi.

Untuk rendam duduk , larutan yang diperlukan adalah PK dengan perbandingan 1:4.000 atau sesuai program dokter.

Prosedur Tindakan :
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Masukkan larutan PK 1 : 4.000 pada larutan hangat untuk merendam dan tuangkan kedalam tempat rendaman.
4. Pasang sampiran bila pasien dirawat dibangsal umum
5. Lakukan perendaman selama 5 – 10 menit. Setelah selesai, bersihkan daerah luka dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
6. Tutup luka dan keringkan dengan kasa steril lalu pasang perban.
7. Cuci tangan setelah prosedur tindakan.
8. Catat keadaan dan reaksi kulit dan hasil rendaman

C. Rendam Seluruh bagian Tubuh
Dilakukan apabila:
Luka mencapai seluruh tubuh, seperti luka bakar.

larutan yang diperlukan adalah PK dengan perbandingan 1:4.000 atau sesuai program dokter.

Prosedur Tindakan :
1. Cuci tangan
2. Masukkan larutan PK 1 : 4000 pada air ditempat rendaman dan diaduk.
3. Masukkan bagian tubuh kedalamtempat rendaman selama 5 – 10 menit dan bersihkan daerah luka dengan kain kasa.
4. Setelah selesai, bersihkan luka dengan kain kasa steril dan keringkan. Lalu beri obat sesuai program dokter.
5. Tutup luka dengan kain kasa.
6. Cuci tangan
7. Catat hasil rendaman dan keadaan luka.

Read More..

TEKNIK MENGATASI NYERI DISTRAKSI DAN RELAKSASI

TEHNIK MENGATASI NYERI
“DISTRAKSI”

PENGERTIAN
Suatu metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian klien pada hal-hal lain , sehingga klien akan lupa terhadap nyeri yang dialami.

MACAM-MACAM TEHNIK DISTRAKSI
1. Bernafas pelan-pelan
2. Masase sambil menarik nafas pelan
3. Mendengarkan lagu sambil menepuk-nepukan jari/kaki
4. Membayangkan hal-hal yang indah sambil menutup mata
5. Menonton TV (acara kegemaran)



BIMBINGAN IMAJINASI (GUIDED IMAGERY)
1. Bina Hubungan saling percaya
2. Jelaskan prosedur : tujuan, posisi, waktu, dan peran perawat sebagai pembimbing.
3. Anjurkan klien mencari posisi yang nyaman menurut klien
4. Duduk dengan klien tetapi tidak mengganggu.
5. Lakukan pembimbingan dengan baik terhadap klien.
6. Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi ketika klien siap.
 Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau pengalaman yang membantu penggunaan semua indra dengan suara yang lembut.
 Ketika klien rileks, klien berfokus pada bayangannya dan saat itu perawat tidak perlu bicara lagi.
 Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman, perawat harus menghentikan latihan dan memulainya lagi ketika klien telah siap.
 Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit, klien harus memperhatikan tubuhnya, lalu catat daerah yang tagang dan daerah ini akan digantikan dengan relaksasi. Biasanya klien rileks setelah menutup mata atau mendengarkan musik yang lembut sebagai background yang membantu.
 Catat hal-hal yang digambarkan klien dalam pikiran untuk digunakan informasi spesifik yang diberikan klien dan tidak membuat perubahan pernyataan klien.

TEHNIK MENGATASI NYERI
“RELAKSASI”
PENGERTIAN
Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada klien yang mengalami nyeri kronis.
Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulus nyeri.

TIGA HAL YANG UTAMA YANG DIBUTUHKAN DALAM TEHNIK RELAKSASI
1. Posisi klien yang tepat
2. Pikiran beristirahat
3. Lingkungan yang tenang

PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Atur posisi klien agar rileks, tanpa beban fisik . Posisi dapat duduk atau berbaring terlentang.
2. Instruksikan klien untuk menghirup nafas dalam sehingga rongga paru berisi udara bersih.
3. Instruksikan klien untuk secara perlahan menghjembuskan udara dan membeiarkannya keluar dari setiap bagian anggota tubuh. Bersamaan dengan hal ini, minta klien memusatkan perhatian ”betapa nikmat rasanya ”
4. Instruksikan klien untuk bernafas dengan irama normal beberapa saat (sekitar 1 – 2 menit)
5. Instruksikan klien untuk bernafas dalam,kemudianmenghembuskan perlahan-lahan, dan merasakan saat ini udara mengalir dari tangan, kaki, menuju keparu, kemudian udara dibuang keluar. Minta klien memusatkan perhatian pada kaki dan tangan, uadara yang dikeluarkan, dan merasakan kehangatannya.
6. Instruksikan klien untuk mengulangi prosedur no.5 denagn memusatkan perhatian pada kaki dan tangan, punggung, perut, bagian tubuh yang lain.
7. Setelah klien merasa rilesk, minta klien secara perlahan menambah irama pernafasan. Gunakan pernafasan dada atau abdomen. Jika frekuensi nyeri bertambah, gunakan pernafasan dangkal dengan frekuensi yang lebih cepat.

Read More..