I. KONSEP MEDIS
1. Definisi:
Semua tumor jinak maupun ganas yang terdapat pada rongga hidung.
2. Klasifikasi Histopatologi:
a. Tumor jinak:
• Dari jaringan lunak : fibroma, neurofibroma, meningioma
• Dari jaringan tulang : osteoma, giant cell tumor, displasia fibrosa/ossifying fibrome.
• Odontogenik : kista-isata gigi, ameloblastoma.
b. Tumor pra ganas:
• Inverted papilloma
c. Tumor ganas:
• Dari epitel : karsinoma sel skuamosa, limfoepitelioma, karsinoma sel basal, silindroma dsb.
• Dari jaringan ikat : fibrisarkoma, rabdomiosarkoma.
• Dari jaringan tulang/tulang rawan: osteosarkoma, kondrosarkoma.
3. Gejala Klinis:
Gejala dini tidak khas, pada stadium lanjut tergantung asal tumor dan arah perluasannya.
Gejala hidung:
Buntu hidung unilateral dan progresif.
Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan.
Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.
Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
Pembengkakan pipi
Pembengkakan palatum durum
Geraham atas goyah, maloklusi gigi
Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.
4. Diagnosis:
Anamnesis yang cermat terhadap gejala klinis.
Pemeriksaan:
- Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum
- Palpasi tumor yang tampak dan kelenjar leher
- Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
- Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
- Pemeriksaan THT lainnya menurut keperluan.
Pemeriksaan penunjang:
- Foto sinar X:
o WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)
o Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
o RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
o CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)
- Biopsi:
o Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.
5. Terapi:
Tumor jinak:
Terapi pilihan adalah pembedahan dengan pendekatan antara lain:
1) Rinotomi lateral
2) Caldwell-Luc
3) Pendekatan trans-palatal
Tumor ganas:
1) Pembedahan:
o Reseksi:
Rinotomi lateral
Maksilektomi partial/total (kombinasi eksenterasi orbita atau dengan kombinasi deseksi leher radikal)
o Paliatif: mengurangi besar tumor (debulking) sebelum radiasi.
2) Radiasi:
o Dilakukan bila operasi kurang radikal atau residif
o Pra bedah pada tumor yang radio sensitif (mis. Karsinoma Anaplastik, undifferentiated)
3) Kemoterapi:
o Dilakukan atas indikasi tertentu (mis. Tumor sangat besar/inoperable, metastasis jauh, kombinasi dengan radiasi)
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Gejala-gejala khas tergantung ukuran tumor, kegansan dan stadium penyakit, antara lain:
Gejala hidung:
Buntu hidung unilateral dan progresif.
Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan.
Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus, sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas.
Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
Pembengkakan pipi
Pembengkakan palatum durum
Geraham atas goyah, maloklusi gigi
Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.
Pada tumor ganas didapati gejala sistemik:
Penurunan berat badan lebih dari 10 %
Kelelahan/malaise umum
Napsu makan berkurang (anoreksia)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum: didapatkan pembengkakan sesuai lokasi pertumbuhan tumor
Palpasi, teraba tumor dan pembesaran kelenjar leher
b. Pengkajian Diagnostik:
Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
Foto sinar X:
- WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan sinus frontal)
- Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
- RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
- CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)
Biopsi:
- Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior. Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk diperiksa lebih lanjut.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1) Kecemasan b/d krisis situasi (keganasan), ancaman perubahan status kesehatan-sosial-ekonomik, perubahan fungsi-peran, perubahan interaksi sosial, ancaman kematian, perpisahan dari keluarga.
2) Gangguan harga diri b/d kelainan bentuk bagian tubuh akibat keganasan, efek-efek radioterapi/kemoterapi.
3) Nyeri b/d kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses inflamasi.
4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.
5) Risiko infeksi b/d ketidak-adekuatan pertahanan sekunder dan efek imunosupresi radioterapi/kemoterapi
DAFTAR PUSTAKA
Adams at al (1997), Buku Ajar Penyakit THT, Ed. 6, EGC, Jakarta
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6, EGC, Jakarta
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Tim RSUD Dr. Soetomo (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit THT, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TUMOR RONGGA HIDUNG
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 15.24 0 komentar
ANATOMI FISIOLOGIE KULIT
PENGERTIAN
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan melindungi permukaan tubuh, bersambung dengan selaput lender yang melapisi rongga-rongga, lubang-lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.
A. LAPISAN KULIT
Terdiri dari 3 ( tiga) lapisan dari atas ke bawah :
1. Epidermis.
2. Corium/ cutis vera.
3. Sub cutis/ Hypodermis.
1). EPIDERMIS
Terdiri dari beberapa lapisan sel :
1.1 Stratum Corneum.
- Sel nya sudah mati
- Tidak mempunyai inti sel
- Inti selnya sudah mati
- Mengandung zat ceratin.
1.2 Stratum Lucidium :
- Selnya pipih, bedanya dengan stratum graulosum ialah : Disini sel-selnya
sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butirnya telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar, butir-butir yang masih ada disebut claidi yang merupakan fase II dalam pembentukan keratine.
- Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan kaki.
- Dalam lapisan terlihat seperti suatu pita yang bening, batas-batas sel sudah tidak begitu terlihat disebut stratum lucidium.
1.3 Stratum Granulosum.
- Stratum ini terdiri dari sel-sel pipih seperti kumparan.
- Sel-sel tersebut terdapat hanya dua sampai tiga lapis yang sejajar dengan permukaan kulit .
- Dalam cytoplasma terdapat butir-butir yang disebut keratohyalin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin oleh karena banyaknya butir-butir tersebut stratum granulosum.
1.4 Stratum spinosum/ stratum acantosum.
- Lapisan ini merupakan lapisan yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan.
- Sel-sel ini disebut spinosum karena jika kita lihat dibawah microscop bahwa sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya polygenal/ banyak sudut dan mempunyai tanduk ( spina).
- Disebut acantonsum sebab sel-selnya berduri.
- Ternyata spina atau tanduk tersebut ada hubungan antara sel yang lain yang disebut intercelulair bridges atau jembatan intercelulair.
1.5 Stratum Basale/ Germinativum.
- Disebut stratum basale karena sel-selnya terltak dibagian basal/ basis.
- Juga disebut stratum germinativum karena menggantikan sel-sel yang di atasnya dan merupakan sel-sel induk.
- Bentuknya cylindaris ( tabung) dengan intinya yang lonjong.
- Didalamnya terdapat butir-butir yang halus disebut butir melanine/ warna.
- Sel tersebut disusun seperti pagar (polysode).
- Dibagian bawah sel tersebut terdapat suatu membrane disebut membrane basalis.
- Sel-sel basalis dengan membrane basalis merupakan batas terbawah dari pada epydermis dengan dermys.
- Ternyata batas ini tidak datar tapi bergelombang, pada waktu corium menonjol pada epydermis tonjolan ini disebut papila corri ( papilla kulit).
- Dipihak lain epydermis menonjol ke arah corium tonjolan ini disebut Riter Ridges atau rite pegg = Prosessus interpapillaris.
2). DERMIS
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit batas dengan epydermis dilapisi oleh membrane basalis dan disebelah bawah berbatasan dengan subcutis tapi batas ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak.
Dermis terdiri dari 2 ( dua) bagian :
- Bagian atas , Pars Papillaris (Stratum papilare)
- Bagian bawah , Reticulari ( Stratum recticularis).
Batas antara pars papilaris dengan pars reticularis adalah bagian bawahnya sampai ke sub cutis.
Baik pars papillaris maupun pars reticularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang tersusun dari serabut-serabut :
a. Serabut collagen.
b. Serabut elastis.
c. Serabut reticulus.
Serabut ini saling beranyaman dan masing-masing mempunyai tugas yang berbeda :
- Serabut collogen, untuk memberikan kekuatan pada kulit.
- Serabur elastis, memberikan kelenturan pada kulit .
- Reticulus, terdapat terutama disekitar kelenjar dan foli rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.
Diantara anyaman tersebut terdapat cairan-cairan antar sel.
3). SUB CUTIS
Sub cutis terdiri dari gerombolan-gerombolan sel-sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak kepinggir, sehingga terbentuk seperti cincin.
Lapisan lemak ini disebut Puniculus adiposus, yang tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak sama ( berlainan).
Kegunaan paniculus adiposus adalah sebagai berikut :
a. Shok brokor, pegas/ bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit.
b. Isolator panas atau yang mempertahankan suhu.
c. Penimbunan kalori.
d. Tambahan untuk kecantikan tubuh.
Dibawah sub cutis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot.
B. PEMBULUH DARAH DAN SARAF
1. PEMBULUH DARAH.
Pembuluh darah kulit terdiri dari dua anyaman pembuluh darah nadi yaitu :
a. Anyaman pembuluh nadi kulit yang atas atau luar :
Anyaman ini terdapat antara stratum papilaris dan stratum reticulair, dari anyaman ini berjalan arterioren pada tiap-tiap papila corri.
b. Anyaman pembuluh darah nadi kulit yang bawah atau dalam :
Anyaman ini terdapat antara corium dan sub cutis, anyaman ini memberikan cabang-cabang pembukuh nadi ke alat-alat tambahan yang terdapat di corium.
Dalam hal ini juga memberikan cabang-cabang yang membentuk anyaman pembuluh nadi kulit permukaan.
Anyaman pembuluh nadi yang dalam ini dibentuk oleh cabang-cabanag pembuluh nadi yang terdapat pada lapisan sub cutis.
Cabang-cabang ini kemudian akan menjadi pembuluh darah balik/ vena yang juga akan membentuk anyaman, yaitu anyaman pembuluh darah balik yang dalam.
Peredaran darah dalam kulit adalah penting sekali oleh karena diperkirakan 1/5 dari darah yang beredar melalui kulit. Disamping itu pembuluh darah pada kulit sangat cepat menyempit/ melebar oleh pengaruh atau rangsangan panas, dingin, tekanan, sakit, nyeri dan emosi, penyempitan dan pelebaran ini terjadi secara reflek.
2. SUSUNAN SARAF KULIT
Pada kulit juga seperti pada organ lain terdapat cabang-cabang saraf spinal dan permukaan yang terdiri dari saraf-saraf motoris dan saraf sensorik.
Ujung saraf motorik berguna untuk menggerakan sel-sel otot yang terdapat pada kulit, sedangkan saraf sensorik berguna untuk menerima rangsangan yang terdapat dari luar atau kulit.
Pada kulit ujung-ujung saraf sensoris ini berbentuk bermacam-macam dan gunanya untuk menerima rangsangan misalnya berupa :
- Ujung-ujung saraf yang bebas adalah untuk menerima rangsangan sakit/ nyeri banyak terdapat di epydermis.
- Yang membentuk end organ, disini ujung-ujung sarafnya mempunyai bentuk yang khas sudah merupakan suatu organ.
C. PELENGKAP KULIT
1. RAMBUT.
Sel epydermis yang berubah, rambut tumbuh dari folikel rambut didalam epydermis, folikel rambut dibatasi oleh epydermis sebelah atas dasarnya disini terdapat pupil tempat rambut tumbuh, akar berada didalam folikel pada ujung paling dalam dan bagian yang keluar disebut batang rambut, pada folikel rambut terdapat otot polos kecil sebagai penegak rambut.
Rambut terdiri dari :
a. Rambut panjang dikepala, pubis dan jenggot.
b. Rambut pendek di lubang hidung, liang telinga dan alis.
c. Rambut bulu lanugo diseluruh tubuh.
d. Rambut sexual di pubis dan axial (ketiak).
Warna kulit dipengaruhi oleh :
a. Pembuluh darah pada kulit.
b. Banyak sedikitnya lemak.
c. Pigmen kulit yang disebut melanine, banyak sedikitnya melanine dipengarukhi oleh :
- Ras atau suku bangsa,
- Hormon.
- Pengaruh sinar ultra violet dan infra merah.
2. KUKU
Kuku adalah sel epydermis kulit-kulit yana telah berubah tertanam dalam pelung kuku menurut garis lekukan pada kulit.
Palung kuku mendapat persarafan dan pembuluh darah yang banyak. Bagian praksimal terletak dalam kelipatan kulit merupakan awal kuku tumbuh, badan kuku bagian yang tidak ditutupi kulit dengan kuat terikat dalam palung kulit dan bagian atas merupakan bagian yang bebas.
Bagian dari kuku :
a. Ujung kuku atas ujung batas.
b. Badan kuku merupakan bagian yang besar.
c. Akar kuku (radik).
3. KELENJAR KULIT
Kelenjar kulit mempunyai lubulus yang bergulung-gulung dengan saluran keluar lurus merupakan jalan untuk mengeluarkan berbagai zat dari badan ( kelenjar keringat).
Kelenjar subasea berasal dari rambut yang bermuara pada saluran folikel rambut untuk melumasi rambut dan kulit yang berdekatan.
Regenerasi kulit dan proses ketuaan.
Kulit mempunyai daya regenerasi yang besar setelah kulit terluka sel-sel ini dalam dermis melawan infeksi lokal kapiler dan jaringan ikat mengalami regenerasi epithel tumbuh dari tepi luka menutupi jarigan ikat yang bergenerasi sehingga terbentuk perut pada mulanya berwarna kemerahan karena meningkatnya jumlah kapiler akhirnya berubah menjadi serabut kalogen keputihan terlihat melalui epithel.
Menifestasi ketuaan kulit.
Lapisan kulit menjadi lebih tipis sehubungan dengan perubahan dalam komposisi kimia zat dasar jaringnan ikat, maka penyebab kekurangan cairan dalam hilangnya elastisitet pada serat-serat elastis dermis dan sub cutis akibat lipatan kulit yang ditimbulkan dengan menarik jaringan dibawahnya lambat menghilang dan timbulnya bintik pigmentasi yang tidak beraturan.
Kelenjar Subasea.
Kelenjar kantongnya dalam kulit bentuknya seperti botol dan bermuara dalam folikel rambut, paling banyak terdapat pada kepala dan muka sekitar hidung, mulut dan telinga. Tidak terdapat pada kaki dan telapak tangan.
Kelenjar ini dilapisi oleh cel epithil.
Ada 2 (dua) kelenjar yang terdapat pada kulit :
1. Kelenjar keringat menghasilkan glanula sudorivera.
2. Kelenjar tulang menghasilkan glanula subasea.
Kelenjar atau glanula terdiri dari :
1. Badan kelenjar.
2. Saluran kelenjar.
3. Muara kelenjar.
D. FUNGSI KULIT SEBAGAI PENGATUR PANAS
Meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan, suhu tubuh stabil karena penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat pengatur panas yaitu suhu darah yang mengalir melalui medula oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu viseral otak 36-37,5° untuk suhu kulit sedikit lebih rendah.
Pengendalian persarafan dan vaso motorik dan arterial kutan ada 2 cara :
1. Vase Dilatasi, kapiler melebar, kulit menjadi panas dan kelebihan panas dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi penguapan cairan pada permukaan tubuh.
2. Vase Construksi, pembuluh darah mengkerut, kulit menjadi pucat dan dingin, hilangnya keringat dibatasi dan panas/ suhu tubuh tidak dikeluarkan.
Cara pelepasan panas dari kulit :
1. Penguapan dengan banyaknya darah mengalir melalui kapiler kulit.
2. Pancaran panas dari udara sekitarnya.
3. Panas dialirkan ke benda yang disentuh seperti pakaian.
4. Pangaliran udara panas.
KERINGAT
Sekresi aktil dari kelenjar keringat dibawa pengendalian saraf simpatis keringat berisi air dan sedikit garam yang dikeluarkan melalui difusi secara sederhana ± 500 cc/ hari.
Kelenjar keringat adalah alat utama mengendalikan suhu tubuh akan berkurang pada waktu iklim dingin dan lebih pada iklim panas.
E. KULIT SEBAGAI INDERA PERABA
Rasa sentuhan disebabkan rangsangan pada ujung saraf di kulit berbeda-beda menurut ujung saraf yang dirangsang, perasaan panas, dingin dan sakit dtimbulkan karena tekanan yang dalam dan perasaan yang berat dari suatu benda misalnya mengenai otot dan tulang.
Kulit sebagai penyimpan air.
Kulit dan jaringan dibawahnya bekerja sebagai tempat penyimpanan air jaringan adipose dibawah kulit penyimpan lemak yang utama pada tubuh.
INDERA PERABA (KULIT)
Panca indera peraba terdapat pada kulit disamping itu kulit juga sebagai pelepas panas yang ada pada tubuh, kulit menutupi dan bersambung dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang.
Kulit mempunyai banyak ujung-ujung saraf peraba yang menerima rangsangan dari luar diteruskan ke pusat saraf di otak.
Fungsi Kulit :
1. Sebagai organ pengatur panas tubuh.
2. Menutupi dan melindungi permukaan tubuh.
3. Membantu mengatur dan melindungi hilangnya air dari tubuh.
- Exkretori (proses pengeluaran zat yang tidak digunakan tubuh).
- Sekretori (proses pengeluaran metabolisme yang digunakan oleh tubuh).
- Absorbsi (proses penyerapan zat makanan yang terjadi pada kulit).
4. Sebagai alat rangsangan rasa yang datang dari luar, dari puting-puting peraba dibawa oleh saraf spinalis motorik dan sensorik dibawa ke pusat saraf yang ada di otak.
Reseptor-reseptor tersebar luas pada lapisan epitel dan jaringan ikat tubuh manusia. Reseptor masing-masing berbeda, yang terbanyak adalah reeptor rasa sakit kemudian sensasi raba, dingin dan panas.
Reseptor yang terletak di lapisan epitel, ditemukan pada mukosa mulut dan traktus respiratorius untuk rasa raba dan rasa sakit, dan jaringan epitel gepeng berlapis-lapis pada bagian akar rambut.
Reseptor yang terletak pada jaringan ikat :
Sangat banyak terletak pada kulit di bawah lapisan mukosa disekitar sendi, pleura, endocardium, peritonium dll.
Rasa sentuhan yang disebabkan oleh rangsangan pada ujung saraf di dalam kulit berbeda-beda menurut ujung saraf yang dirangsang perasaan panas, dingin, sakit semua perasaan ini berlainan.
Perasaan yang disebabkan tekanan yang sangat dalam dan perasaan memungkinkan seseorang menentukan dan menilai berat suatu benda timbul pada struktur lebih dalam misalnya pada otot dan sendi.
F. KEMAMPUAN MELINDUNGI KULIT
1. Menghindari hilangnya cairan dari jaringan dan menghindari masuknya air ke dalam jaringan.
2. Menghalangi cedera pada struktur dibawahnya.
3. Mencegah bahaya dehidrasi yang lebih parah kalau epidermis mengalami kerusakan
G. FUNGSI KULIT
1. Meindungi tubuh terhadap luka, mekanis, kimia, dan termis karena epithelnya dengan bantuan sekret kelenjar memberikan perlindungan terhadap kulit.
2. Perlindungan terhadap microorganisme patogen.
3. Mempertahankan suhu tubuh dengan pertolongan sirculasi darah.
4. Mengatur keseimbangan cairan melalui sirculasi kelenjar
5. Alat indera melalui perasaan, pernafasan , sensorik dan tekanan , temperatur dan nyeri.
H. HUBUNGAN KULIT DENGAN PSIKOLOGIS
Kulit sangat erat hubungannya dengan psikologis seseorang, apabila seseorang dalam keadaan marah/ karena gembira terlihat mukanya merah dan kulit terliahat pucat dan berkeringat dingin apabila seseorang dalam keadaan takut.
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 14.57 0 komentar
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HIDROSEPHALUS POST OPERASI SHUNT
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Hidrosephalus adalah akumulasi berlebihan dari Cairan Serebro Spinal (CSS) dalam sistem ventrikel, yang mengakibatkan dilatasi positif pada ventrikel (Wong, 2004:572).
Hidrosephalus adalah keadaan dimana jumlah CSS dalam rongga serebro spinal yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan sehingga dapat merusak jaringan syaraf (Silvia, 1995:917).
Hidrosephalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebro spinal, disebabkan oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorsi cairan tersebut (Darto sahars.wordpress.com/2006/05/20/hidrosephal).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hidrosephalus adalah suatu keadaan patologis otak akibat akumulasi berlebih dari CSS yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan syaraf dan disebabkan oleh produksi yang berlebihan maupun gangguan absorsi CSS.
Shunt adalah pengaliran darah atau cairan bukan melalui pembuluh darah yang lazim atau aliran pintas (Hincliff, 1999: 402).
2. Etiologi
a. Kelainan bawaan
1) Stenosis akuaduktus silvi
Merupakan penyebab yang paling banyak pada hidrosephalus pada bayi dan anak (60-90%). Aquaduktus dapat berupa saluran yang buntu sama sekali atau abnormal (lebih sempit)
2) Spina bifida
Hidrosephalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medulla spinalis dengan medulla oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga menyebabkan sumbatan.
3) Sindrom Dandy-Walker
Merupakan atresia kongenital foramen luscha dan magandi pada ventrikel IV.
4) Kista araknoid
Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma.
b. Infeksi
Infeksi dapat mengakibatkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Biasanya terjadi setelah proses infeksi, infeksi yang sering menyebabkan Hidrosephalus adalah infeksi saluran pernapasan.
c. Neoplasma
Hidrosephalus dapat disebabkan oleh neoplasma jika tumor tersebut menekan atau menyumbat saluran dari cairan serebro spinal.
d. Perdarahan
Telah banyak di buktikan bahwa perdarahan dalam otak sebelum dan sesudah lahir, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
3. Anatomi Fisiologi Syaraf
Sistem syaraf dapat dibagi menjadi dua yaitu sistem syaraf pusat dan sistem syaraf tepi. Sistem syaraf tepi terdiri dari susunan syaraf otonom dan susunan syaraf somatik, sedangkan sistem syaraf pusat terdiri dari medulla spinalis dan otak.
a. Medulla spinalis
Medulla spinalis merupakan suatu struktur lanjutan tunggal yang memanjang dari medulla oblongata melalui foramen magnum dan terus kebawah melalui kolumna vertebralis sampai vertebra lumbalis pertama (L1). Fungsi medulla spinalis adalah mengkoordinasi gerakan refleks, mengkoordinasi anggota gerak / tubuh, dan menyampaikan stimulus ke otak.
b. Otak
Otak dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1) Otak besar (Cerebrum)
Otak besar merupakan bagian otak yang paling besar dan menonjol. Disini terdapat pusat-pusat syaraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik. Otak besar terdiri dari empat lobus yaitu :
a) Lobus frontalis
Lobus ini terletak didepan sulkus sentralis, mempunyai fungsi mengatur gerakan-gerakan terlatih seperti menulis, motorik bicara, dan mengemudi. Pada bagian prefrontal berfungsi melakukan kegiatan intelektual kompleks (berfikir), beberapa fungsi ingatan, rasa tanggung jawab dan penilaian / pandangan ke masa depan.
b) Lobus parientalis
Lobus parientalis terletak didepan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh korako oksipital. Lobus ini memiliki fungsi utama memproses informasi sensorik (nyeri, suhu, sensasi raba dan tekan).
c) Lobus temporalis
Terletak dibawah lateral dari fisura serebralis dan didepan lobus oksipitalis. Berfungsi sebagai area sensori reseptif untuk impuls pendengaran dan mempunyai peran dalam proses ingatan tertentu.
d) Lobus oksipitalis
Bagian ini terletak dibagian belakang dari serebrum, mempunyai fungsi penglihatan, berperan dalam refleks gerak mata apabila sedang memandang atau mengikuti gerak objek.
2) Otak kecil (serebellum)
Terletak didalam fosa kranialis posterior dan ditutupi oleh durameter yang memisahkannya dari lobus oksipitalis. Fungsi utama dari serebellum adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasikan dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
3) Batang otak
Batang otak pada bagian atas berhubungan dengan cerebrum, pada bagian bawah berhubungan dengan medulla oblongata dan medulla spinalis. Batang otak terdiri dari lima bagian yaitu :
a) Diensefalon
Adalah bagian teratas dari batang otak yang terletak diantara otak kecil dan mesensefalon, bagian ini berfungsi :
(1). Sebagai pengatur vasokonstriksi bagi pembuluh darah
(2). Berperan sebagai proses pernapasan
(3). Mengatur kegiatan refleks
(4). Membantu pengaturan kerja jantung
b) Mesensefalon
Fungsi utama dari mesensefalon adalah berperan sebagai pusat pengatur pergerakan-pergerakan bola mata dan kelopak mata.
c) Pons vareli
Letak bagian ini diantara otak tengah dan medulla oblongata disini terdapat bagian yang mengatur gerakan pernapasan dan refleks. Fungsi pons vareli antara lain :
(1). Penghubung antara kedua bagian serebellum dan juga antara medulla oblongata dengan cerebrum (otak besar)
(2). Merupakan pusat dari nervus trigeminus
d) Medulla oblongata
Merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang menghubungkan medulla spinalis keatas. Bagian medulla oblongata yang melebar disebut kanalis sentralis yang berada dibagian tengah ventral medulla oblongata. Fungsi medulla oblongata adalah :
(1). Mengontrol pekerjaan jantung
(2). Mengecilkan pembuluh darah
(3). Sebagai pusat pernapasan
(4). Mengontrol kegiatan refleks
e) Hipotalamus
Hipotalamus terletak antara cerebrum, batang otak, dan vertebra. Banyak cirri anatomi dasar pada hipotalamus yang sama dengan formasi retikuler batang otak, misalnya neuro isendrit. Hipotalus mempunyai fungsi utama dalam pengontrol suhu tubuh, berisi reseptor suhu yang memonitor suhu darah dan thermostat yang mengatur system control produksi panas
4) Suplai darah otak
Seperti jaringan tubuh lainnya, otak juga sangat tergantung dari aliran yang memadai untuk nutrisi dan pembuangan sisa metabolisme. Kurang lebih 20 % dari seluruh suplai darah tubuh diberikan ke otak, suplai darah otak dijamin oleh 2 arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis, sedangkan aliran vena otak tak selalu paralel dengan suplai darah arteri; pembuluh darah vena meninggalkan otak melalui sinus dura dan kembali kesirkulasi umum melalui vena jugularis interna.
5) Ventrikel dan cairan serebro spinal (CSS)
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling berhubungan dan dibatasi oleh ependima (semacam sel epitel yang membatasi semua rongga otak dan medulla spinalis dan mengandung CSS. Ventrikel 3 terletak didalam diensefalon, sedangkan ventrikel 4 dalam pons dan medulla oblongata, ventrikel lateral (I,II), terdapat pada setiap hemisfer serebri. Dalam setiap ventrikel terdapat struktur sekresi cairan serebro spinal yaitu pleksus koroideus, cairan ini diproduksi sekitar 500-700 ml perhari dan berisi air, elektrolit, CO2 dan O2 yang terlarut, glukosa, leukosit, dan sedikit protein. Cairan serebro spinal diproduksi di pleksus koroideus kemudian bersirkulasi dalam ventrikel-ventrikel dan ruang subaraknoid, CSS diabsorsi oleh vili araknoid kedalam sinus dura. (pleksus koroideus - ventrikel lateral – foramen monro – ventrikel 3 – aquaduktus – ventrikel 4 – ruang subaraknoid – vili araknoid). Fungsi dari cairan serebro spinal adalah melembabkan otak dan medulla spinalis, melindungi organ-organ diotak dan medulla spinalis, melicinkan organ-organ medulla spinalis dan otak.
Gambar 2.1
Sirkulasi CSS
Sumber : www.yahoo.com, 02 agustus 2007
c. syaraf tepi
Syaraf tepi dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1) Syaraf somatic
Susunan syaraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktifitas otot sadar atau serat lintang
2) Syaraf otomom
Menurut fungsinya syaraf otonom dibagi menjadi dua bagian yaitu saraf simpatis dan parasimpatis.
4. Patofisiologi
Akibat dari penyebab hidrosephlus (kelainan bawaan, infeksi, neoplasma, perdarahan) dapat mengakibatkan terganggunya saluran dan absorsi cairan serebro spinal dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial (TIK), yang menyebabkan tekanan intraventrikuler meningkat sehingga kornu anterior ventrikuler lateral melebar.
Dengan adanya pelebaran seluruh ventrikel lateral, dalam waktu yang singkat dan diikuti oleh penipisan ependim ventrikulus. Hal ini dapat mengakibatkan permeabilitas ventrikel meningkat menyebabkan peningkatan absorsi CSS dan akan menimbulkan edema substansia alba didekatnya. Menyebabkan terjadinya hidrosepahlus. Akibat dari peningkatan tekanan CSS intraventrikular adalah sistem venosa menjadi kolaps dan penurunan volume aliran darah, sehingga terjadi hipoksia dan perubahan metabolisme parenkim (kehilangan lipid dan protein).
5. Manifestasi klinis
a. Bayi
1) Kepala semakin membesar
2) Ubun-ubun menegang dan melebar
3) Sutura melebar
4) Perkembangan terhambat
5) Nistagmus horizontal
6) Cerebral Cry, yaitu tangisan pendek bernada tinggi dan bergetar
7) Sunset phenomena, yaitu bola mata terdorong kebawah oleh tekanan dan penipisan tulang suborbital, sklera tampak diatas iris, sehingga iris seakan-akan seperti matahari yang terbenam
8) Cracked-pot sign, yaitu bunyi seperti pot yang retak atau buah semangka pada pekusi kepala.
b. Anak
1) Muntah proyektil
2) Nyeri kepala
3) Kejang
4) Kesadaran menurun
5) Papiledema
6. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dapat menegakan hidrosephalus antara lain:
a. Transmulasi kepala
b. Ultrasonografi kepala bila sutura belum menutup
c. CT-scan
7. Manajemen medik
a. Terapi medikamentosa
Hidrosephalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obtruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberikan asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat diberikan manitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan meskipun hasilnya kurang memuaskan.
b. Tindakan bedah
Terdapat 3 prinsip pengobatan untuk hidrosephalus antara lain :
1) Mengurangi produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroideus dengan reseksi atau koagulasi.
2) Memperbaiki hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorsi
3) Mengeluarkan CSS kedalam organ eksternal :
Yaitu dengan cara mengalirkan cairan serebro spinal dari ventrikel keluar dari kranium. Drainase ini biasanya dilakukan pada penderita hidrosephalus obstruktif baik yang disebabkan oleh perdarahan maupun neoplasma. Komplikasi dari pemasangan shunt antara lain : disfungsi shunt, infeksi shunt, dan disproporsi kranioserebral. Macam dari shunt seperti :
a) Drainase ventrikulo-peritoneal
b) Drainase ventrikulo-pleural
c) Drainase ventrikulo-uretrostomi
d) Cara yang dianggap paling baik yaitu mengalirkan CSS kedalam vena jugularis dan jantung yang memungkinkan pengaliran CSS ke satu arah.
Gambar 2.2
Drainase Ventrikulo Peritoneal
Sumber : www.yahoo.com, 02 agustus 2007
8. Dampak hidrosephalus post operasi shunt terhadap kebutuhan dasar manusia sebagai mahluk yang holistik
a. Aktivitas
Pada klien dengan hidrosephalus biasanya ditemukan kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak, ataksia, dan gerakan involunter. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan intra kranial pada kepala sehingga menekan organ-organ disekitarnya yang menyebabkan syaraf tertekan sehingga terjadi kelemahan pada tubuh. Setelah dilakukan pemasangan shunt tekanan intra kranial akan menurun, tetapi bukan satu patokan bahwa tekanan intra kranial dapat kembali normal dan aktivitas dapat berjalan normal.
b. Sirkulasi
Dengan adanya peningkatan tekanan intra kranial menyebabkan suplai darah ke otak terganggu sehingga menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi berkurang. Hal ini mengakibatkan otak kekurangan oksigen dan mengakibatkan jantung bekerja lebih berat sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah dan takikardi. Dengan adanya shunt cairan serebro spinal tersalurkan, tetapi komplikasi dari pemasangan shunt juga dapat menyebabkan aliran darah keotak tersumbat sehingga menyebabkan kurangnya suplai oksigen keotak.
c. Eliminasi
Karena adanya kerusakan sistem syaraf pusat pada klien hidrosephalus menyebabkan adanya gangguan pada pola eliminasi seperti inkontenensia dan retensi urin. Setelah dilakukan pemasangan shunt penekanan syaraf pusat akan berkurang akibat dari penyaluran cairan serebro spinal ke ekstrakranial akan tetapi, pembuangan CSS pada peritoneum dapat menekan usus dan mengganggu proses eliminasi.
d. Nyeri
Pada umumnya pasien dengan hidrosephalus akan mengalami gelisah, sering menangis, dan tampak terus terjaga. Hal ini disebabkan karena adanya nyeri kepala, shunset phenomena, dan juga pembesaran kepala pada bayi yang disebabkan karena adanya peningkatan tekanan intra kranial pada otak yang menekan jaringan sekitarnya. Setelah pemasangan shunt nyeri dapat disebabkan karena adanya insisi bedah dan selang shunt yang terpasang dari kepala bagian pariental menjalar melalui leher dan dada kemudian berakhir pada daerah epigastrium.
e. Neuro sensori
Pada pasien dengan hidrosephalus karena adanya peningkatan tekanan intra cranial maka akan terjadi kerusakan pada syaraf kranial terutama yang mempersyarafi mata dan telinga, peningkatan tekanan intra kranial juga dapat menyebabkan gangguan kesadaran dan gangguan motorik. Dengan adanya selang shunt peningkatan tekanan intra kranial akan berkurang, jika kerusakan pada syaraf kranial terjadi sebelum pemasangan shunt kelainan mungkin akan timbul.
f. Makanan / cairan
Asupan nutrisi pada pasien hidrosephalus akan terganggu sehingga mengakibatkan turgor kulit menipis, dan mebran mukosa kering. Hal itu disebabkan karena penurunan kesadaran.
g. Pernapasan
Adanya riwayat infeksi pada saluran pernapasan mungkin sebagai salah satu penyebab dari hidrosephalus, infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan peningkatan eksudat pada paru-paru,
h. Keamanan
Pada klien dengan hidrosepalus karena adanya peningkatan tekanan intra kranial yang mengakibatkan gangguan pendengaran dan penglihatan, peningkatan suhu tubuh, dan juga kelemahan secara umum menyebabkan klien perlu untuk diawasi demi keselamatannya. Setelah dilakukan pemasangan shunt keamanan dari cedera harus diawasi karena efek dari anastesi.
i. Hygiene
Karena adanya kelemahan secara umum / gangguan kesadaran pada klien dengan hidrosephalus menyebabkan tidak mampu melakukan aktivitas dengan sendiri, sehingga menyebabkan klien menjadi ketergantungan terhadap orang lain.
j. Pengetahuan
Pada pasien dengan hidrosephalus memerlukan pengobatan dan perawatan yang berkesinambungan. Dengan kondisi yang lemah ditambah dengan keyakinan agama yang mempengaruhi pilihan pengobatan dan perawatan menyebabkan masukan informasi tentang pengobatan dan perawatan berkurang, sehingga menyebabkan kurang pengetahuan pada keluarga. Keluarga harus diberikan informasi tentang cara merawat klien setelah pemasangan shunt
9. Dampak hidrosephalus post operasi shunt terhadap pertumbuhan dan perkembangan
Dampak hidrosephalus post-op shunt terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah terganggu proses pertumbuhan dan perkembangan, misalnya gangguan pada proses penglihatan dan pendengaran karena akibat dari penekanan cairan serebro spinal terhadap otak, penurunan berat badan akibat dari muntah proyektil, dan penurunan kesadaran
10. Konsep tumbuh kembang pada anak usia infant
Pertumbuhan adalah terjadinya perubahan dalam besar , jumlah, dan ukuran sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur.
a. Aspek pertumbuhan dan perkembangan pada usia infant
Pencapaian suatu kemampuan pada setiap anak bisa berbeda, namun ada patokan untuk mengukur kemampuan yang telah dicapai seorang anak pada umur tertentu. Tujuan dari adanya patokan umur tersebut adalah agar kita dapat memberikan stimulus pada anak yang belum mencapai kemampuan sesuai tahap umur agar dapat mencapai perkembangan yang optimal.
1) Pertumbuhan
a) Berat badan dan tinggi badan
(1). Usia 1-6 bulan
Penambahan berat badan 150-200 gram setiap minggu selama enam bulan pertama, penambahan tinggi badan 2,5 cm setiap bulan selama enam bulan pertama.
(2). Usia 6-12 bulan
Penambahan berat badan 90-150 gram setiap minggu selama enam bulan berikutnya, penambahan tinggi badan 1,25 cm setiap bulan selama enam bulan berikutnya.
b) Lingkar kepala
(1). Usia 1-6 bulan
Lingkar kepala membesar 1,5 cm setiap bulan selama enam bulan pertama
(2). Usia 6-12 bulan
Lingkar dada dan lingkar kepala sama (46,5 cm)
2) Perkembangan
a) Perkembangan psikososial menurut (Erik Erikson)
Anak pada usia 0-1 tahun berada pada tahap perkembangan trust vs mistrust yaitu dimana rasa percaya merupakan komponen awal yang sangat penting, mendasari tahun pertama kehidupannya. Hubungan ibu dan anak yang harmonis sangat penting dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis dan social, karena merupakan awal pengalaman rasa percaya anak. Rasa percaya timbul bila kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
b) Tahap perkembangan psikososial (Sigmund freud)
Menurut Sigmund freud anak pada usia 0-1 tahun berada pada fase oral yaitu kepuasan berada pada sekitar mulut, jika hubungan bayi memuaskan maka akan memberikan situasi yang penuh kasih saying, dimana itu sangat penting bagi proses pendewasaan pada masa depannya.
c) Tahap perkembangan kognitif (Piaget)
Pada usia anak 0-2 tahun piaget mengatakan anak berada pada tahap sensoris – motoris yaitu dimana menghisap (sucking) adalah ciri utama pada perilaku bayi. Pada tahap ini anak mengembangkan aktivitasnya dengan menunjukan perilaku sederhana yang dilakukan berulang-ulang untuk meniru perilaku tertentu dari lingkungannya. Jadi, perkembangan intelektual dipelajari melalui sensasi dan pergerakan.
d) Tahap perkembangan moral (Kohlberg)
Menuru Kohlberg anak pada usia 0-1 tahun berada pada tahap perkembangan moral preconventional diamana anak belajar baik dan buruk, atau benar salah melalui budaya sebagai dasar dalam peletakan moral. Tahap preconventional memiliki 3 tahapan yaitu :
(1). Tahap pertama : didsari oleh adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan adalah seperti apa yang saya mau, rasa cinta dan kasing saying akan menolong dalam memahami tentang kebaikan.
(2). Tahap kedua : orientasi hukum dan ketaatan yaitu baik dan buruk sebagai konsekuensi dari tindakanya, oleh karena itu hati-hati apabila anak memukul temannya atau orang tua dan tidak diberi sangsi karena anak akan berfikir bahwa tindakannya bukan suatu perbuatan yang buruk.
(3). Tahap tiga : anak berfokus pada motif yang menyenangkan sebagai suatu kebaikan. Anak menjalankan aturan sebagai sesuatu yang memuaskan bagi mereka sendiri.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hidrosephalus Post Operasi Shunt
1. Pengkajian
Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta catan riviu sebelumnya (Doengoes, 2000:7).
a. Identitas
Identitas klien meliputi : jenis kelamin, pendidikan, agama, tanggal, masuk tanggal pengkajian, alamat, nomor RM, diagnosa medis, identitis penaggung jawab nama, jenis kelamin, pendidikan, agama, alamat, hubungan dengan klien
b. Keadaan Umum
Klien dengan post-op shunt biasanya lemah, kurang aktif, dan rewel. Kesadaran pada umumnya masih belum composmentis akibat dari efek anastesi.
c. Keluhan utama
Keluhan pada anak dengan post-op shunt adalah anak sering tertidur dan jarang melakukan aktivitas.
d. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien dengan Hidrosephalus datang karena adanya pembesaran kepala, kelainan pada mata, dan kejang.
e. Riwayat kesehatan lalu
Klien dengan Hidrosephalus biasanya dapat dilatar belakangi dengan adanya cedera kepala selama proses persalinan, infeksi cerebral atau pernapasan.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit Hidrosephalus, karena terdapat Hidrosephalus akibat kelainan bawaan.
g. Riwayat tumbuh kembang
Pertumbuhan anak biasanya terganggu; penurunan berat badan terganggunya perkembangan; fungsi motorik kasar dan halus, dan fungsi bicara sebelum dilakukan pemasangan shunt.
h. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Anak dengan post-op shunt biasanya lemah, kurang aktif, dan mudah tertidur, hal itu dikarenakan masih terdapatnya efek dari anastesi.
2) Antropometri
Lingkar kepala biasanya masih membesar dengan diameter melebihi normal, namun berjalan dengan waktu lingkar kepala akan semakin mengecil mendekati batas normal.
3) Pemeriksaan sistematis
a) Kepala
Pada anak dengan pemasangan shunt akan terlihat luka insisi bedah pada bagian pariental, dan teraba adanya selang shunt dari kepala menjalar keleher bagian belakang.
b) Mata
Nistagmus horizontal, refleks cahaya berkurang, dan sunset phenomena biasanya masih terdapat walaupun telah dilakukan pemasangan selang shunt.
c) Hidung
Anak dengan post-op hidrosephalus biasanya tidak mengalami gangguan dengan bentuk hidung, tetapi jika penyebab dari hidrosephalus dari infeksi saluran pernapasan maka pernapasan cuping hidung mungkin terdapat.
d) Telinga
Biasanya terdapat gangguan pendengaran akibat dari peningkatan tekanan intra kranial. Sebagian besar kien dengan post-op shunt tidak terdapat gangguan pada fungsi pendengaran.
e) Mulut
Tidak terdapat kelainan pada mulut.
f) Leher
Terlihat dan teraba pada leher bagian samping selang shunt yang melintas dari kepala bagian pariental menjalar terus melewati dada klien, biasanya klien merasakan sakit saat menggerakan leher kearah bagian yang terpasang selang shunt.
g) Pemeriksaan thorak dan fungsi pernapasan
Akan terlihat dan teraba selang shunt yang menjalar dari leher menuju peritoneum pada salah satu bagian dada, pernapasan post-op shunt biasanya melemah akibat efek dari anastesi.
h) Abdomen
Pada abdomen klien dengan post-op shunt perut terlihat cembung, dan terlihat selang pada daerah epigastrium.
i) Genitalia
Tidak terdapat kelainan pada genitalia dan anus.
j) Pemeriksaan syaraf kranial
Terdapat kelainan pada nervus 2, 3, 4, dan 6 akibat dari peningkatan tekanan inta cranial sebelum pemasangan shunt, kadang terjadi gangguan pada nervus 8.
k) Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan CT-scan biasanya terlihat akumulasi cairan serebro spinal pada ventrikel atau saluran cairan serebro spinal, terlihat pembesaran pada tengkorak, sutura terlihat lebih melebar.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doengoes, 2000:7).
a. Resiko perubahan perfusi jaringan cerebral
b. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan efek anastesi
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan drainase mekanik
d. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah
e. Resiko perubahan tumbuh kembang
f. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 14.41 0 komentar
ASUHANKEPERAWATAN HALUSINASI
A. Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini Saudara diharapkan mampu:
1. Melakukan pengkajian pada pasien halusinasi
2. Menetapkan diagnosa keperawatan pasien halusinasi
3. Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien halusinasi
4. Melaksanakan tindakan keperawatan kepada keluarga pasien dengan halusinasi
5. Mengevaluasi kemampuan pasien dan keluarga dalam merawat pasien halusinasi
6. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pasien dengan halusinasi
B. Pengkajian Pasien Halusinasi
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada.
Pada proses pengkajian, data penting yang perlu saudara dapatkan adalah:
1. Jenis halusinasi:
Berikut adalah jenis-jenis halusinasi, data obyektif dan subyektifnya. Data objektif dapat Saudara kaji dengan cara mengobservasi perilaku pasien, sedangkan data subjektif dapat Saudara kaji dengan melakukan wawancara dengan pasien. Melalui data ini perawat dapat mengetahui isi halusinasi pasien.
Jenis halusinasi
Data Objektif
Data Subjektif
Halusinasi Dengar/suara Bicara atau tertawa sendiri
Marah-marah tanpa sebab
Menyedengkan telinga ke arah tertentu
Menutup telinga Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
Halusinasi Penglihatan Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas. Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon, melihat hantu atau monster
Halusinasi Penghidu Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
Menutup hidung. Membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.
Halusinasi Pengecapan Sering meludah
Muntah Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
Halusinasi Perabaan Menggaruk-garuk permukaan kulit Mengatakan ada serangga di permukaan kulit
Merasa seperti tersengat listrik
2. Isi halusinasi
Data tentang isi halusinasi dapat saudara ketahui dari hasil pengkajian tentang jenis halusinasi (lihat nomor 1 diatas).
3. Waktu, frekwensi dan situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi
Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Kapan halusinasi terjadi? Apakah pagi, siang, sore atau malam? Jika mungkin jam berapa? Frekuensi terjadinya apakah terus-menerus atau hanya sekali-kali? Situasi terjadinya apakah kalau sendiri, atau setelah terjadi kejadian tertentu. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk mencegah terjadinya halusinasi.
4. Respons halusinasi
Untuk mengetahui apa yang dilakukan pasien ketika halusinasi itu muncul. Perawat dapat menanyakan pada pasien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul. Perawat dapat juga menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat dengan pasien. Selain itu dapat juga dengan mengobservasi perilaku pasien saat halusinasi timbul.
C. Merumuskan Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan data subyektif dan obyektif yang ditemukan pada pasien
Gangguan sensori persepsi: halusinasi …………..
D. Tindakan Keperawatan Pasien Halusinasi
1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien
a. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi:
1) Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
2) Pasien dapat mengontrol halusinasinya
3) Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
b. Tindakan Keperawatan
1) Membantu pasien mengenali halusinasi.
Untuk membantu pasien mengenali halusinasi Saudara dapat melakukannya dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan respon pasien saat halusinasi muncul
2) Melatih pasien mengontrol halusinasi. Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi Saudara dapat melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi:
a) Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya. Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi:
Menjelaskan cara menghardik halusinasi
Memperagakan cara menghardik
Meminta pasien memperagakan ulang
Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
b) Bercakap-cakap dengan orang lain
Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi; fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut. Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
c) Melakukan aktivitas yang terjadwal
Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami halusinasi bisa dibantu untuk mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu.
Tahapan intervensinya sebagai berikut:
• Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi.
• Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
• Melatih pasien melakukan aktivitas
• Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah
dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, 7 hari dalam seminggu.
• Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan; memberikan penguatan terhadap perilaku pasien yang positif.
d) Menggunakan obat secara teratur
Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat sehingga akibatnya pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan.
Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:
Jelaskan guna obat
Jelaskan akibat bila putus obat
Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis)
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 22.56 0 komentar
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERITONITIS
PENGERTIAN
Peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa.
ETIOLOGI
1. Infeksi bakteri
• Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
• Appendisitis yang meradang dan perforasi
• Tukak peptik (lambung / dudenum)
• Tukak thypoid
• Tukan disentri amuba / colitis
• Tukak pada tumor
• Salpingitis
• Divertikulitis
Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus dan hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.
2. Secara langsung dari luar.
• Operasi yang tidak steril
• Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.
• Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati
• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.
3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus.
GEJALA DAN TANDA
• Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum.
• Demam
• Distensi abdomen
• Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.
• Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.
• Nausea
• Vomiting
• Penurunan peristaltik.
PATOFISIOLOGI
Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen, biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia, trauma atau perforasi tumor, peritoneal diawali terkontaminasi material.
Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah.
Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar.
TEST DIAGNOSTIK
1. Test laboratorium
• Leukositosis
• Hematokrit meningkat
• Asidosis metabolik
2. X. Ray
• Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :
• Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis.
• Usus halus dan usus besar dilatasi.
• Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.
PROGNOSIS
• Mortalitas tetap tinggi antara 10 % - 40 %.
• Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam.
• Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya.
LAPARATOMI
Pengertian
Pembedahan perut sampai membuka selaput perut.
Ada 4 cara, yaitu;
1. Midline incision
2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm).
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.
Indikasi
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar.
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernaan.(Internal Blooding)
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
5. Masa pada abdomen
Komplikasi
1. Ventilasi paru tidak adekuat
2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
Latihan-latihan fisik
Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.
POST LAPARATOMI
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.
Tujuan perawatan post laparatomi;
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
2. Mempercepat penyembuhan.
3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
4. Mempertahankan konsep diri pasien.
5. Mempersiapkan pasien pulang.
Komplikasi post laparatomi;
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
2. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.
Proses penyembuhan luka
• Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
• Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
• Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
• Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
3. Pencegahan infeksi.
Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi.
Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah;
1. Respiratory
• Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
2. Sirkulasi
• Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
3. Persarafan : Tingkat kesadaran.
4. Balutan
• Apakah ada tube, drainage ?
• Apakah ada tanda-tanda infeksi?
• Bagaimana penyembuhan luka ?
5. Peralatan
• Monitor yang terpasang.
• Cairan infus atau transfusi.
6. Rasa nyaman
• Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.
7. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI
Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 21.50 0 komentar
ASKEP SYOK
SYOK
A. Definisi
Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi jika sirkulasi darah arteri tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Perfusi jaringan yang adekuat tergantung pada 3 faktor utama yaitu curah jantung, volume darah, dan tonus vasomotor perifer. Jika salah satu dari ketiga faktor penentu ini kacau dan faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi, maka akan terjadi syok. Awalnya tekanan darah arteri normal sebagai kompensasi peningkatan isi sekuncup dan curah jantung. Jika syok berlanjut, curah jantung menurun dan vasokonstriksi perifer meningkat. Jika hipotensi menetap dan vasokonstruksi berlanjut, hipoperfusi mengakibatkan asidosis laktat, oliguria, dan ileus. Jika tekanan arteri cukup rendah, terjadi disfungsi otak dan otot jantung (Mansjoer, 1999).
Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan fungsi akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakckupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat mekanisme homeostatis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok dan homeostatis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif (Ashadi, 1999).
B. Etiologi
1. Syok Hipovolemik
• Kehilangan darah/syok hemoragik
Hemoragik eksternal : trauma, perdarahan gastrointestinal
Hemoragik internal : hematoma, hematoraks/himoperitoneum
• Kehilangan plasma
Luka bakar
Dermatitis eksfoliatif
• Kehilangan cairan dan elektrolit
Eksternal : muntah, diare, keringat yang berlebihan
Internal : pankreatitis, asites, obstruksi usus
2. Syok Kardiogenik
• Disritmia
• Kegagalan pompa jantung
• Disfungsi katup akut
• Ruptur septum ventrikel
3. Syok Obstruktif
• Tension pneumothorax
• Penyakit perikardium
• Penyakit pembuluh darah paru
• Tumor jantung (miksoma atrial)
• Trombus mural atrium kiri
• Penyakit katup obstruktif
4. Syok Distributif
• Syok septik
• Syok anafilaktik
• Syok neurogenik
• Obat-obatan vasodilator
• Insufiensi adrenl akut
C. Patofisiologi
Menurut patofisiologinya, syok terbagi atas 3 fase yaitu (Komite Medik, 2000):
1. Fase Kompensasi
Penurunan curah jantung (cardiac output) terjadi sedemikian rupa sehingga timbul gangguan perfusi jaringan tapi belum cukup untuk menimbulkan gangguan seluler. Mekanisme kompensasi dilakukan melalui vasokonstriksi untuk menaikkan aliran darah ke jantung, otak dan otot skelet dan penurunan aliran darah ke tempat yang kurang vital. Faktor humoral dilepaskan untuk menimbulkan vasokonstriksi dan menaikkan volume darah dengan konservasi air. Ventilasi meningkat untuk mengatasi adanya penurunan kadar oksigen di daerah arteri. Jadi pada fase kompensasi ini terjadi peningkatan detak dan kontraktilitas otot jantung untuk menaikkan curah jantung dan peningkatan respirasi untuk memperbaiki ventilasi alveolar. Walau aliran darah ke ginjal menurun, tetapi karena ginjal mempunyai cara regulasi sendiri untuk mempertahankan filtrasi glomeruler. Akan tetapi jika tekanan darah menurun, maka filtrasi glomeruler juga menurun.
2. Fase Progresif
Terjadi jika tekanan darah arteri tidak lagi mampu mengkompensasi kebutuhan tubuh. Faktor utama yang berperan adalah jantung. Curah jantung tidak lagi mencukupi sehingga terjadi gangguan seluler di seluruh tubuh. Pada saat tekanan darah arteri menurun, aliran darah menurun, hipoksia jaringan bertambah nyata, gangguan seluler, metabolisme terganggu, produk metabolisme menumpuk, dan akhirnya terjadi kematian sel.
Dinding pembuluh darah menjadi lemah, tak mampu berkonstriksi sehingga terjadi bendungan vena, vena balik (venous return) menurun. Relaksasi sfinkter prekapiler diikuti dengan aliran darah ke jaringan tetapi tidak dapat kembali ke jantung. Peristiwa ini dapat menyebabkan trombosis kecil-kecil sehingga dapat terjadi koagulopati intravasa yang luas (DIC = Disseminated Intravascular Coagulation).
Menurunnya aliran darah ke otak menyebabkan kerusakan pusat vasomotor dan respirasi di otak. Keadaan ini menambah hipoksia jaringan. Hipoksia dan anoksia menyebabkan terlepasnya toksin dan bahan lainnya dari jaringan (histamin dan bradikinin) yang ikut memperjelek syok (vasodilatasi dan memperlemah fungsi jantung). Iskemia dan anoksia usus menimbulkan penurunan integritas mukosa usus, pelepasan toksin dan invasi bakteri usus ke sirkulasi.
Invasi bakteri dan penurunan fungsi detoksikasi hepar memperjelek keadaan. Dapat timbul sepsis, DIC bertambah nyata, integritas sistim retikuloendotelial rusak, integritas mikro sirkulasi juga rusak. Hipoksia jaringan juga menyebabkan perubahan metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik. Akibatnya terjadi asidosis metabolik, terjadi peningkatan asam laktat ekstraseluler dan timbunan asam karbonat di jaringan.
3. Fase Irevesibel
Karena kerusakan seluler dan sirkulasi sedemikian luas sehingga tidak dapat diperbaiki. Kekurangan oksigen mempercepat timbulnya ireversibilitas syok. Gagal sistem kardiorespirasi, jantung tidak mampu lagi memompa darah yang cukup, paru menjadi kaku, timbul edema interstisial, daya respirasi menurun, dan akhirnya anoksia dan hiperkapnea.
D. Pathway
Kehilangan Darah, Kehilangan Plasma, Kehilangan Cairan dan Elektrolit
Disritmia, Kegagalan Pompa Jantung, Disfungsi Katup Akut
Ruptur Septum Ventrikel
Sirkulasi darah arteri tidak adekuat
Mempengaruhi curah jantung, volume darah dan tonus vasomotor perifer
Jika salah satu dari curah jantung, volume darah dan tonus otot tidak dapat melakukan kompensasi
- Syok Hipovolemik
- Syok Kardiogenik
- Syok Neurogenik
- Syok Septik
- Syok Anafilaksis
Kegagalan akut fungsi sirkulasi
Gangguan mekanisme homeostadisi
E. Manifestasi Klinis (Mansjoer, 1999)
1. Tekanan darah sistemik dan takikardi; puncak tekanan darah sistolik <100mmHg atau lebih dari 10% di bawah tekanan darah yang telah diketahui.
2. Hipoperfusi perifer, vasokonstriksi; kulit dingin, lembab, dan sianosis.
3. Status mental terganggu; kebingungan, agitasi, koma.
4. Oliguria atau anuria; <0,5 ml/kgBB/jam.
5. Asidosis metabolik.
Pemantauan hemodinamik :
1. Tekanan darah arteri
2. Tekanan vena sentral
3. Tekanan arteri pulmonal, dimonitor dengan kateter Swan-Ganz untuk pengukuran Pulmonary Catheter Wedge Presure (PCWP).
4. Pengukuran tambahan. Pemantauan sensorium, jumlah urine, dan suhu kulit.
F. Penatalaksanaan (Mansjoer, 1999)
Pasien diletakkan dalam posisi Trendelenburg atau telentang dengan kaki ditinggikan.
Untuk syok yang tidak terdiagnosis :
1. Bebaskan jalan napas dan yakinkan ventilasi yang adekuat
2. Pasang akses ke intravena
3. Mengembalikan cairan
4. Pertahankan produksi urine >0,5 ml/kgBB/jam
G. Derajat syok
1. Syok Ringan
Penurunan perfusi hanya pada jaringan dan organ non vital seperti kulit, lemak, otot rangka, dan tulang. Jaringan ini relatif dapat hidup lebih lama dengan perfusi rendah, tanpa adanya perubahan jaringan yang menetap (irreversible). Kesadaran tidak terganggu, produksi urin normal atau hanya sedikit menurun, asidosis metabolik tidak ada atau ringan.
2. Syok Sedang
Perfusi ke organ vital selain jantung dan otak menurun (hati, usus, ginjal). Organ-organ ini tidak dapat mentoleransi hipoperfusi lebih lama seperti pada lemak, kulit dan otot. Pada keadaan ini terdapat oliguri (urin kurang dari 0,5 mg/kg/jam) dan asidosis metabolik. Akan tetapi kesadaran relatif masih baik.
3. Syok Berat
Perfusi ke jantung dan otak tidak adekuat. Mekanisme kompensasi syok beraksi untuk menyediakan aliran darah ke dua organ vital. Pada syok lanjut terjadi vasokontriksi di semua pembuluh darah lain. Terjadi oliguri dan asidosis berat, gangguan kesadaran dan tanda-tanda hipoksia jantung (EKG abnormal, curah jantung menurun)
H. Pemeriksaan
1. Anamnesis
Pada anamnesis, pasien mungkin tidak bisa diwawancara sehingga riwayat sakit mungkin hanya didapatkan dari keluarga, teman dekat atau orang yang mengetahui kejadiannya, cari :
• Riwayat trauma (banyak perdarahan atau perdarahan dalam perut)
• Riwayat penyakit jantung (sesak nafas)
• Riwayat infeksi (suhu tinggi)
• Riwayat pemakaian obat ( kesadaran menurun setelah memakan obat)
2. Pemeriksaan fisik
• Kulit
suhu raba dingin (hangat pada syok septik hanya bersifat sementara, karena begitu syok berlanjut terjadi hipovolemia)
Warna pucat (kemerahan pada syok septik, sianosis pada syok kardiogenik dan syok hemoragi terminal)
Basah pada fase lanjut syok (sering kering pada syok septik).
• Tekanan darah
Hipotensi dengan tekanan sistole < 80 mmHg (lebih tinggi pada penderita yang sebelumnya mengidap hipertensi, normal atau meninggi pada awal syok septik)
• Status jantung
Takikardi, pulsus lemah dan sulit diraba
• Status respirasi
Respirasi meningkat, dan dangkal (pada fase kompensasi) kemudian menjadi lambat (pada syok septik, respirasi meningkat jika kondisi menjelek)
• Status Mental
Gelisah, cemas, agitasi, tampak ketakutan. Kesadaran dan orientasi menurun, sopor sampai koma.
• Fungsi Ginjal
Oliguria, anuria (curah urin < 30 ml/jam, kritis)
• Fungsi Metabolik
Asidosis akibat timbunan asam laktat di jaringan (pada awal syok septik dijumpai alkalosis metabolik, kausanya tidak diketahui). Alkalosis respirasi akibat takipnea
• Sirkulasi
Tekanan vena sentral menurun pada syok hipovolemik, meninggi pada syok kardiogenik
• Keseimbangan Asam Basa
Pada awal syok pO2 dan pCO2 menurun (penurunan pCO2 karena takipnea, penurunan pO2 karena adanya aliran pintas di paru)
3. Pemeriksaan Penunjang
• Darah (Hb, Hmt, leukosit, golongan darah), kadar elektrolit, kadar ureum, kreatinin, glukosa darah.
• Analisa gas darah
• EKG
I. Komplikasi
1. Kegagalan multi organ akibat penurunan alilran darah dan hipoksia jaringan yang berkepanjangan.
2. Sindrom distress pernapasan dewasa akibat destruksi pertemuan alveolus kapiler karena hipoksia.
3. DIC (Koagulasi intravascular diseminata) akibat hipoksia dan kematian jaringan yang luas sehingga terjadi pengaktifan berlebihan jenjang koagulasi.
Berikut ini akan dibahas mengenai beberapa macam syok.
Diposting oleh Zaenal Arifin, NS.SKep di 21.00 0 komentar